Jumat, 17 Januari 2020

PSIKODINAMIKA


PENGERTIAN PSIKODINAMIKA

Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak dini.
Pemahanan freud tentang kepribadian manusia didasarkan pada pengalaman-pengalaman dengan pasiennya, analisis tentang mimpinya, dan bacaannya yang luas tentang beragam literature ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Pengalaman-pengalaman ini menyediakan data yang mendasar bagi evolusi teorinya. Baginya, teori mengikuti megikuti observasi, dan konsepnya tentang kepribadian terus mengalami revisi selama 50 tahun terakhir hidupnya.
Teori psikodinamika atau tradisi klinis berangkat dari dua asumsi dasar. Pertama, manusia adalah bagian dari dunia binatang. Kedua, manusia adalah bagian dari sistem energi. Kunci utama untuk memahami manusia menurut paradigma psikodinamika adalah mengenali semua sumber terjadinya perilaku, baik itu berupa dorongan yang disadari maupun yang tidak disadari.
Teori psikodinamika ditemukan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Dia memberi nama aliran psikologi yang dia kembangkan sebagai psikoanalisis. Banyak pakar yang kemudian ikut memakai paradigma psikoanalisis untuk mengembangkan teori kepribadiannya, seperti : Carl Gustav Jung, Alfred Adler, serta tokoh-tokoh lain seperti Anna Freud, Karen Horney, Eric Fromm, dan Harry Stack Sullivan. Teori psikodinamika berkembang cepat dan luas karena masyarakat luas terbiasa memandang gangguan tingkah laku sebagai penyakit (Alwisol, 2005 : 3-4).

B.     Teori Psikoseksual Freud
Psikodinamika mencerminkan dinamika-dinamika psikis yang menghasilkan gangguan jiwa atau penyakit jiwa. Dinamika psikis terjadi melalui sinergi dan interaksi-interaksi elemen psikis setiap individu. Seksualitas Freud sebagai sebuah dinamika, menangkap ada bermacam-macam potensi psikopatologi dalam setiap peta id, ego, dan superego. Ketiga elemen psikis ini mempunyai kekhasan masing-masing, sebab mereka menggambarkan tiap-tiap ide yang saling paradoks. Hanya saja, mereka tidak akan membuat manusia sepenuhnya nyaman, karena manusia tetap saja orang yang sakit. Sebagaimana tubuh fisik yang mempunyai struktur: kepala, kaki, lengan dan batang tubuh, Sigmund Frued, berkeyakinan bahwa jiwa manusia juga mempunyai struktur, meski tentu tidak terdiri dari bagian-bagian dalam ruang. Struktur jiwa tersebut meliputi tiga instansi atau sistem yang berbeda. Masing-masing sistem tersebut memiliki peran dan fungsi sendiri-sendiri. Keharmonisan dan keselarasan kerja sama di antara ketiganya sangat menentukan kesehatan jiwa seseorang. Ketiga sistem ini meliputi: Id, Ego, dan Superego. Sebagaimana akan dijelaskan sebagai berikut:
1.    Id
Sigmund Frued mengumpamakan kehidupan psikis seseorang bak gunung es yang terapung-apung di laut. Hanya puncaknya saja yang tampak di permukaan laut, sedangkan bagian terbesar dari gunung tersebut tidak tampak, karena terendam di dalam laut. Kehidupan psikis seseorang sebagian besar juga tidak tampak ( bagi diri mereka sendiri ), dalam arti tidak disadari oleh yang bersangkutan. Meski demikian, hal ini tetap perlu mendapat perhatian atau diperhitungkan, karena mempunyai pengaruh terhadap keutuhan pribadi ( integrated personality ) seseorang. Dalam pandangan Frued, apa yang dilakukan manusia khususnya yang diinginkan, dicita-citakan, dikehendaki- untuk sebagian besar tidak disadari oleh yang bersangkutan. Hal ini dinamakan “ketaksadaran dinamis”, ketaksadaran yang mengerjakan sesuatu. Dengan pandangan seperti itu, Frued telah melakukan sebuah revolusi terhadap pandangan tentang manusia. Karena, psikologi sebelumnya hanya menyelidiki hal-hal yang disadari saja. Segala perilaku yang di luar kesadaran manusia dianggap bukan wilayah kajian psikologi.
Frued menggunakan istilah Id untuk menunjukkan wilayah ketaksadaran tersebut. Id merupakan lapisan paling dasar dalam struktur psikis seorang manusia. Id meliputi segala sesuatu yang bersifat impersonal atau anonim, tidak disengaja atau tidak disadari, dalam daya-daya mendasar yang menguasai kehidupan psikis manusia. Oleh karena itu, Frued memilih istilah “id” ( atau bahsa aslinya “Es” ) yang merupakan kata ganti orang neutrum atau netral.
Pada permulaan hidup manusia, kehidupan psikisnya hanyalah terdiri dari Id saja. Pada janin dalam kandungan dan bayi yang baru lahir, hidup psikisnya seratus persen sama identik dengan Id. Id tersebut nyaris tanpa struktur apa pun dan secara menyeluruh dalam keadaan kacau balau. Namun demikian, Id itulah yang menjadi bahan baku bagi perkembangan psikis lebih lanjut. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan biologis manusia – pusat insting (hawa nafsu, istilah dalam agama ). Ada dua insting dominan, yakni : ( 1 ) Libido – instink reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif; ( 2 ) Thanatos – instink destruktif dan agresif. Yang pertama disebut juga instink kehidupan ( eros ), yang dalam konsep Frued bukan hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan kepada Tuhan, cinta diri ( narcisisme ). Bila yang pertama adalah instink kehidupan, yang kedua merupakan instink kematian. Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos. Id bergerak berdasarkan kesenangan ( pleasure principle ), ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani manusia. ( Jalaluddin Rakhmat M.sc, Psikologi Komunikasi, 1986 ). Pada mulanya, Id sama sekali berada di luar kontrol individu. Id hanya melakukan apa yang disukai. Ia dikendalikan oleh “prinsip kesenangan” ( the pleasure principle ). Pada Id tidak dikenal urutan waktu ( timeless ). Hukum-hukum logika dan etika sosial tidak berlaku untuknya. Dalam mimpi seringkali kita melihat hal-hal yang sama sekali tidak logis. Atau pada anak kecil, kita bisa melihat bahwa perilaku mereka sangat dikuasai berbagai keinginan. Untuk memuaskan keinginan tersebut, mereka tak mau ambil pusing tentang masuk akal-tidaknya keinginan tersebut. Selain itu, juga tidak peduli apakah pemenuhan keinginan itu akan berbenturan dengan norma-norma yang berlaku. Yang penting baginya adalah keinginannya terpenuhi dan ia memperoleh kepuasan. Demikianlah gambaran selintas tentang Id. Bagaimana pun keadaannya Id tetap menjadi bahan baku kehidupan psikis seseorang. Id merupakan reservoar energi psikis yang menggerakkan Ego dan Superego. Energi psikis dalam Id dapat meningkat karena adanya rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar individu. Apabila energi psikis ini meningkat, akan menimbulkan pengalaman tidak enak (tidak menyenangkan). Id tidak bisa membiarkan perasaan ini berlangsung lama. Karena itu, segeralah id mereduksikan energi tersebut untuk menghilangkan rasa tidak enak yang dialaminya. Jadi, yang menjadi pedoman dalam berfungsinya Id adalah menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan. Untuk menghilangkan ketidakenakan dan mencapai keenakan ini, id mempunyai dua cara, yang pertama adalah: refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti misalnya bersin, berkedip karena sinar, dan sebagainya, dan yang ke dua adalah proses primer, seperti misalnya ketika orang lapar biasanya segera terbayang akan makanan; orang yang haus terbayang berbagai minuman. Bayangan-bayangan seperti itu adalah upaya-upaya yang dilakukan id untuk mereduksi ketegangan akibat meningkatnya energi psikis dalam dirinya. Cara-cara tersebut sudah tentu tidak dapat memenuhi kebutuhan. Orang lapar tentu tidak akan menjadi kenyang dengan membayangkan makanan. Orang haus tidak hilang hausnya dengan membayangkan es campur. Karena itu maka perlu (merupakan keharusan kodrat) adanya sistem lain yang menghubungkan pribadi dengan dunia objektif. Sistem yang demikian itu ialah Ego.
2.    Ego
Meski id mampu melahirkan keinginan, namun ia tidak mampu memuaskannya. Subsistem yang kedua, ego berfungsi menjembatani tuntutan id dengan realitas di dunia luar. Ego merupakan mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewani manusia dan hidup sebagai wujud yang rasional ( pada pribadi yang normal ). Ketika id mendesak Anda untuk menampar orang yang telah menyakiti Anda, ego segera mengingatkan jika itu Anda lakukan, Anda akan diseret ke kantor polisi karena telah main hakim sendiri. Jika Anda menuruti desakan id, Anda akan konyol. Jadi, ego adalah aspek psikologis dari kepribadian yang timbul karena kebutuhan manusia untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan. Orang lapar tentu perlu makan untuk menghilangkan ketegangan yang ada di dalam dirinya. Ini berarti bahwa individu harus dapat membedakan antara khayalan dengan kenyataan tentang makanan. Di sinilah letak perbedaan pokok antara id dan ego. Id hanya mengenal dunia subjektif (dunia batin), sementara ego dapat membedakan sesuatu yang hanya ada di dalam batin dan sesuatu yang ada di dunia luar (dunia objektif, dunia kenyataan). Lain dengan id, ego berpegang pada prinsip kenyataan ( reality principle ) dan berhubungan dengan proses sekunder. Tujuan prinsip realitas adalah mencari objek yang tepat sesuai dengan kenyataan untuk mereduksi ketegangan yang timbul di dalam diri. Proses sekunder ini adalah proses berpikir realistik. Dengan mempergunakan proses sekunder, Ego merumuskan sesuatu rencana untuk pemuasan kebutuhan dan mengujinya dengan suatu tindakan untuk mengetahui apakah rencananya itu berhasil atau tidak.
Aktivitas Ego ini bisa sadar, pra sadar atau tak disadari. Namun untuk sebagian besar adalah disadari. Contoh aktivitas Ego yang disadari antara lain : persepsi lahiriah ( saya melihat teman saya tertawa di ruang itu ); persepsi batiniah ( saya merasa sedih ) dan berbagai ragam proses intelektual. Aktivitas pra sadar dapat dicontohkan fungsi ingatan ( saya mengingat kembali nama teman yang tadinya telah saya lupakan ). Sedangkan aktivitas tak sadar muncul dalam bentuk mekanisme pertahanan diri ( defence mechanisme ), misalnya orang yang selalu menampilkan perangai temperamental untuk menutupi ketidakpercayaan-dirinya; ketidakmampuannya atau untuk menutupi berbagai kesalahannya. Aktivitas Ego ini tampak dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang objektif, yang sesuai dengan dunia nyata dan mengungkapkan diri melalui bahasa. Di sini, the pleasure principle dari Id diganti dengan the reality principle. Sebagai misal, ketika seseorang merasa lapar. Rasa lapar ini bersumber dari dorongan Id untuk fungsi menjaga kelangsungan hidup. Id tidak peduli apakah makanan yang dibutuhkan nyata atau sekadar angan-angan. Baginya, ia butuh makanan untuk memuaskan diri dari dorongan rasa lapar tersebut. Pada saat yang bersangkutan hendak memuaskan diri dengan mencari makanan, Ego mengambil peran. Ego berpendapat bahwa angan-angan tentang makanan tidak bisa memuaskan kebutuhan akan makanan. Harus dicari makanan yang benar-benar nyata. Selanjutnya, Ego mencari cara untuk mendapatkan makanan tersebut. Menurut Frued, tugas pokok Ego adalah menjaga integritas pribadi dan menjamin penyesuaian dengan alam realitas. Selain itu, juga berperan memecahkan konflik-konflik dengan realitas dan konflik-konflik dengan keinginan-keinginan yang tidak cocok satu sama lain. Ego juga mengontrol apa yang akan masuk ke dalam kesadaran dan apa yang akan dilakukan. Jadi, Fungsi Ego adalah menjaga integritas kepribadian dengan mengadakan sintesis psikis.
3.    Superego
Superego adalah sistem kepribadian terakhir yang ditemukan oleh Sigmund Frued. Sistem kepribadian ini seolah-olah berkedudukan di atas Ego, karena itu dinamakan Superego. Fungsinya adalah mengkontrol ego. Ia selalu bersikap kritis terhadap aktivitas ego, bahkan tak jarang menghantam dan menyerang ego. Superego ini termasuk ego, dan seperti ego ia mempunyai susunan psikologis lebih kompleks, tetapi ia juga memiliki perkaitan sangat erat dengan id. Superego dapat menempatkan diri di hadapan Ego serta memperlakukannya sebagai objek dan caranya kerapkali sangat keras. Bagi Ego sama penting mempunyai hubungan baik dengan Superego sebagaimana halnya dengan Id. Ketidakcocokan antara ego dan superego mempunyai konsekuensi besar bagi psikis. Seperti dikemukakan di atas, Superego merupakan sistem kepribadian yang melepaskan diri dari Ego. Aktivitas Superego dapat berupa self observation, kritik diri, larangan dan berbagai tindakan refleksif lainnya. Superego terbentuk melalui internalisasi (proses memasukkan ke dalam diri) berbagai nilai dan norma yang represif yang dialami seseorang sepanjang perkembangan kontak sosialnya dengan dunia luar, terutama di masa kanak-kanak. Nilai dan norma yang semula “asing” bagi seseorang, lambat laun diterima dan dianggapnya sebagai sesuatu yang berasal dari dalam dirinya. Larangan, perintah, anjuran, cita-cita, dan sebagainya yang berasal dari luar ( misalnya orangtua dan guru ) diterima sepenuhnya oleh seseorang, yang lambat laun dihayati sebagai miliknya. Larangan “Engkau tidak boleh berbohong“ Engkau harus menghormati orang yang lebih tua” dari orangtuanya menjadi “Aku tidak boleh berbohong “Aku harus menghormati orang yang lebih tua”. Dengan demikian, Superego berdasarkan nilai dan norma-norma yang berlaku di dunia eksternal, kemudian melalui proses internalisasi, nilai dan norma-norma tersebut menjadi acuan bagi perilaku yang bersangkutan. Superego merupakan dasar moral dari hati nurani. Aktivitas superego terlihat dari konflik yang terjadi dengan ego, yang dapat dilihat dari emosi-emosi, seperti rasa bersalah, rasa menyesal, juga seperti sikap observasi diri, dan kritik kepada diri sendiri.
Konflik antara ego dan superego, dalam kadar yang tidak sehat, berakibat timbulnya emosi-emosi seperti rasa bersalah, menyesal, rasa malu dan seterusnya. Dalam batas yang wajar, perasaan demikian normal adanya. Namun, pada beberapa orang hidupnya sangat disiksa oleh superegonya, sehingga tidak mungkin lagi untuk hidup normal
Ketiga komponen diatas berkembang melalui tahap-tahap perkembangan psikoseksual. Freud menggunakan istilah seksual untuk segala tindakan dan fikiran yang memberi kenikmatan atau kepuasan, istilah psikoseksual digunakan untuk menunjukkan bahwa proses perkembangan psikologis ditandai dengan adanya libido (energi seksual) yang dipusatkan pada daerah-daerah tubuh tertentu yang berbeda-beda. Freud yakin bahwa perkembangan manusia melewati lima tahap perkembangan psikoseksual dan bahwa setiap perkembangan tersebut individu mengalami pada satu bagian tubuh lebih daripada bagian tubuh yang lain.
Tahap-tahap Perkembangan Psikoseksual Freud
Tahap
Usia/Tahun
Ciri-ciri Perkembangan
Oral
0-1
Bayi merasakan kenikmatan pada daerah mulut. Mengunyah, mengigit, dan mengsisap adalah sumber utama kenikmatan.
Anal
1-3
Kenikmatan terbesar anak terdapat di sekitar daerah lubang anus. Rangsangan pada daerah anus ini berkaitan erat dengan kegiatan buang air besar
Phalic
3-6
Kenikmatan berfokus pada alat kelamin, ketika anak menemukan bahwa manipulasi diri dapat memberikan kenikmatan. Anak melai menaruh perhatian pada perbedaan-perbedaan anatomik anatara laki-laki dan perempuan,terhadap asal-usul bayi dan terhadaphal-hal yang berkaitan dengan kegiatan seks.
Latency
6-12
Anak menekan semua minat terhadap seks dan mengembangkan keterampilan sosial dan intelektual. Kegiatan ini menyalurkan banyak energianak ke dalam bidang-bidang yang aman secara emosional dan menolong anak melupakan konflik pada tahap phalic yang sangat menekan.
Genital
12-Dewasa
Dorongan-dorongan seks yang ada pada masa phalic kembali berkembang, setelah berada dalam keadaan tenang selama masa latency. Kematangan fisiologis ketika anak memasuki masa remaja, mempengaruhi timbulnya daerah-daerah erogen pada alat kelamin sebagai sumber kenikmatan.
SUMBER : Diadaptasi dari Zigler & Stevenson (1998).

Freud menggunakan istilah “erogenous zones” (daerah kenikmatannn seksual) untuk menunjukkan tiga bagian tubuh-mulut, dubur, dan alat kelamin-sebagai daerah yang mengalami kenikmatan khusus yang sangat kuat dan yang memberikan kualitas pada setiap tahap perkembangan. Pada setiap tahap perkembangan, anak merasakan kenikmatan tertentu pada daerah tersebut, dan selalu berusaha mencari objek atau pun melakukan kegiatan yang dapat memuaskan. Tetapi pada saat yang sama muncul konflik dengan tuntutan-tuntutan realitas yang harus diatasi.

C.    Teori Psikososial Erikson
Erik Erikson (1902 – 1994) adalah salah seorang teoritis ternama di bidang perkembangan rentang-hidup. Ia dipandang sebagai tokoh utama dalam teori psikoanalitik kontemporer. Hal ini cukup beralasan, sebab tidak ada tokoh lain sejak kematian Sigmund Freud yang telah bekerja dengan begitu teliti untuk menguraikan dan memperluas struktur psikoanalisis yang dibangun oleh Freud serta merumuskan kembali prinsip-prinsipnya guna memahami dunia modern. Salah satu sumbangannya yang terbesar dalam psikologi perkembangan adalah psikososial. Istilah “psikososial” dalam kaitannya dengan perkembngan manusia berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara fisik dan psikologis ( Hall & Lindzey, 1993 )
Meskipun teori perkembangan kepribadian yang dirumuskan Erikson mempunyai kemiripan dengan teori Freud, namun dalam beberapa hal keduanya berbeda pendapat. Erikson misalnya, mengatakan bahwa individu berkembang dalam tahap – tahap psikososial, yang berbeda dengan tahap – tahap psikoseksual  Freud. Erikson menekankan perubahan perkembangan sepanjang siklus kehidupan manusia,sementara Freud berpendapat bahwa kepribadian dasar individu dibentuk pada lima tahun pertama kehidupan. Disamping itu, dalam teori psikososial, Erikson lebih menekankan faktor ego, sementara dalam teori psikoseksual, Freud ledih mementingkan id.
Menurut teori psikososial Erikson, kepribadian terbentuk ketika seseorang melewati tahap psikososial sepanjang hidupnya. Masing – masing tahap memiliki tugas perkembangan yang khas, dan mengharuskan individu menghadapi dan menyelesaikan krisis. Erikson melihat bahwa krisis tersebut sudah ada sejak lahir, tetapi pada saat – saat tertentu dalam siklus kehidupan, krisis menjadi dominan. Bagi Erikson, krisis bukanlah suatu bencana, tetapi suatu titik balik peningkatan uulnerabality (kerentanan) dan potensi. Untuk setiap krisis, selalu ada pemecahan yang negatif dan positif. Pemecahan yang positif, akan menghasilkan kesehatan jiwa, sedangkan pemecahan yang negatif akan membentuk penyesuaian diri yang buruk. Semakin berhasil seseorang mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangannya ( Santrock, 1998).
Menurut teori psikososial Erikson, perkembangan manusia dibedakan berdasarkan kualitas ego dalam delapan tahap perkembangan. Empat tahap pertama terjadi  pada masa bayi dan masa kanak-kanak, tahap kelima pada masa adolesen, dan tiga tahap terakhir pada masa dewasa dan masa tua. Dari delapan tahap perkembangan tersebut, Erikson lebih memberikan penekanan pada masa adolesen, karena masa tersebut merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Apa yang terjadi pada masa ini, sangat penting artinya bagi kehidupan dewasa. Berikut ini akan diuraikan secara singkat kedelapan tahap perkembangan psikososial erikson tersebut.
Tahap kepercayaan dan ketidakpercayaan (trust versus mistrust) yaitu tahap psikososial yang terjadi selama tahun-tahun  pertama kehidupan. Pada masa ini, bayi mengalami konflik antara percaya dan tidak percaya. Rasa percaya menuntut perasaan nyaman secara fisik dan sejumlah kecil ketakutan serta kekhawatiran akan masa depan. Pada saat itu, hubungan bayi denagn ibu menjadi sangat penting. Kalau ibu member bayai makan, membuatnya hangat, memeluk dan mengajaknya bicara, maka bayi tersebut akan memperoleh kesan bahwa lingkungannya dapat menerima kehadirannya secara hangat dan bersahabat. Inilah yang menjadi landasan pertama bagi rasa percaya. Sebaliknya, kalau ibu tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi, maka dalam diri bayi akan timbul rasa ketidakpercayaaan terhadap lingkungannya.
Tahap otonomi dengan rasa malu dan ragu ( autonomi versus shame and doubt ), yaitu tahap kedua perkembangan psikososial yang berlangsung pada akhir masa bayi dan dan masa baru pandai berjalan. Setelah memperoleh kepercayaan diri dari pengasuh mereka, bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah milik mereka sendiri. Mereka mulai menyatakan rasa mandiri atau otonomi mereka. Mereka menyadari kemauan mereka. Pada tahap ini, bila orang tua selalu memberikan dorongan kepada anak agar dapat berdiri diatas kedua kaki mereka sendiri, sambil melatih kemempuan-kemampuan mereka, maka anak akan mampu mengembangkan pengendalian atas otot, dorongan, lingkunagan dan diri sendiri (otonom). Sebaliknya, jika orang tua cenderung menunutut terlalu banyak atau terlalu membatasi anak untuk menyelidiki anak akan mengalami rasa malu dan ragu-ragu.
Tahap prakarsa dan rasa bersalah (iniative versus guilt), yaitu tahap perkembangan psikososial ketiga yang berlangsung selama tahun-tahun prasekolah. Pada tahap ini anak terlihat sangat aktif, suka berlari, berkelahi, memanjat-manjat dan suka menantang lingkungannya. Dengan menggunakan bahasa, fantasi, dan permainan khayalan, dia memperoleh perasaan harga diri. Bila orangtua bias memahami, menjawab pertanyaan anak, dan menerima keaktifan anak dalam bermain, maka anak-anak akan belajar untuk mendekati apa yang diinginkan, dan perasaan inisiatif menjadi kuat. Sebaliknya, bila orang tua kurang memahami, kurang sabar, suka memeberikan hukuman, danmenganggap bahwa pengajuan pertanyaan, bermain dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak tidak bermanfaat, maka anak akan merasa bersalah dan menjadi enggan untuk mengambil inisiatif untuk mendekati apa yang diinginkannya.
Tahap kerajinan dan rasa rendah diri (industry versus inferiority), yaitu tahap perkembangan psikososial keempat yang berlangsung kira-kira pada tahun-tahun sekolah dasar. Pada tahun ini, anak mulai memasuki dunia yang baru, yaitu sekolah dengan segala aturan dan tujuan. Anak mulai mengerahka energy mereka menuju penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Alat-alat permainan dan kegiatan bermain berangsur-angsur digantikan oleh perhatian pada situasi-situasi produktif serta alat-alat yang dipakai untuk bekerja. Akan tetapi, apabila anak tidak berhasil menguasai keterampilan dan tugas-tugas yang dipilihnya atau yang diberikan oleh guru-guru dan orang tuanya, maka anak akan mengembangkan perasaan rendah diri.
Tahap identitas dan kekacauan identitas (identity versus identity confusion), yaitu tahap perkembangan psikososial yang kelima yang berlangsung selama tahun-tahun masa remaja. Pada tahap merasakan suatu perasaan tentang identitasnya sendiri, perasaan bahwa ia adalah individu unik yang siap memasuki suatu peran yang berarti di tenga masyarakat, baik peran yang bersifat menyesuaikan diri maupun yang bersifat memperbarui. Tetapi, karena peralihan yang sulit dari masa kanak-kanak ke masa dewasa di satu pihak dan karena kepekaan terhadap perubahan sosial dan historis lain, maka anak akan mengalami krisis identitas. Bila krisis ini tidak segera diatasi, maka anak akan mengalami kebingungan peran atau kekacauan identitas, yang dapat menyebabkan anak merasa terisolasi, cemas, hampa, dan bimbang.
Tahap keintiman dan isolasi (intimacy versus isolation), yaitu tahap perkembangan psikososial keenam yang dialami individu selama tahun-tahun awal masa dewasa. Tugas perkembangan individu pada masa ini adalah membentuk relasi intim dengan orang lain. Menurut Erikson, keintiman tersebut biasanya menuntut perkembangan seksual yang mengarah pada hubungan seksual dengan lawan jenis yang dicintai. Bahaya dari tidak tercapainya keintiman dari tahap ini adalah isolasi, yakni kecenderungan menghindari berhubungan secara intim dengan orang lain, kecuali dalam lingkup yang amat terbatas.
Tahap generativitas dan stagnasi (generativitv versus stagnation), yaitu perkembangan psikososial ketujuh yang dialami individu selama pertengahan masa dewasa. Cirri utama tahap generativitas adalah perhatian terhadap apa yang dihasilkan (keturunan, produk-produk, ide-ide, dan sebagainya) serta pembentukan dan penetapan garis-garis pedoman untuk generasi mendatang. Kepedulian seseorang terhadap pengembangan generasi muda inilah yang diistilahkan oleh Erikson dengan “generativitas”. Apabila generativitas ini lemah atau tidak diungkapkan, maka kepribadian akan mundur, mengalami pemiskinan dan stagnasi.
Tahap intregitas dan keputusasaan (intregity versus despair), yaitu tahap perkembangan kedelapan yang dialami individu selama akhir dewasa. Integritas terjadi ketika seseorang pada tahun-tahun terakhir kehidupannya menoleh kebelakang dan mengevaluasi apa yang telah dilakukan dalam hidupnya selama ini, menerima dan menyesuaikan diri dengan keberhasilan dan kegagalan yang dialaminya, merasa aman dan tenteram, serta menikmati hidup sebagi yang berharga dan layak. Akan tetapi bagi orang tua yang dihantui oleh perasaan bahwa hidupnya selama ini sama sekali tidak mempunyai makna ataupun memberikan kepuasan pada dirinya, maka ia akan merasa putus asa.

Senin, 06 November 2017

Asuhan Keperawatan CA.Ovari




ASUHAN KPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN CA OVARI












Disusun Oleh :
                RONI SETIAWAN





SEKOLAH TINGGI ILMU KEPERAWATAN HUSADA JOMBANG
PRODI S-I KEPERAWATAN
TAHUN 2017




BAB I
PENDAHULUAN


1.1          Latar Belakang
     Sampai saat ini, kanker ovarium dikenal sebagai “silent killer” karena biasanya tidak ditemukan gejala apapun sampai diketahui telah menyebar ke bagian tubuh lain. Namun sebenarnya bukti baru menunjukkan bahwa kebanyakan wanita mungkin memiliki gejala bahkan sejak tahap awal kanker ini. Jika dideteksi sedini mungkin, kanker ini bisa diatasi. Deteksi dini penting; masih, hanya sekitar 20 persen kanker ovarium ditemukan sebelum pertumbuhan tumor telah menyebar di luar ovarium. Jika dideteksi sedini mungkin harapan hidup jauh lebih tinggi ketimbang ketika kanker terlanjur menyebar ke luar ovarium.
     Angka kejadian kanker ovarium ini kira-kira 20% dari semua keganaan alat reproduksi wanita. Insiden rata-rata dari semua jenis diperkirakan 15 kasus baru per 100.000 populasi wanita setahunnya. Menurut data statistik American Cancer Society insiden kanker ovarium sekitar 4 % dari seluruh keganasan pada wanita dan menempati peringkat kelima penyebab kematian akibat kanker, diperkirakan pada tahun 2003 akan ditemukan 25.400 kasus baru dan menyebabkan kematian sebesar 14.300, dimana angka kematian ini tidak banyak berubah sejak 50 tahun yang lalu.
     Kanker epitel ovarium atau dikenal dengan kanker indung telur yang berasal dari sel epitel merupakan 90% kasus dari seluruh kanker indung telur. Kanker indung telur merupakan penyebab kematian ke-5 terbanyak di Amerika Serikat dan merupakan salah satu dari 7 keganasan tersering di seluruh dunia. Kanker indung telur memiliki angka kematian yang tinggi, dari 23.100 kasus baru kanker indung telur, sekitar 14.000 atau separuh lebih wanita meninggal karena penyakit ini. Hampir 70 % kanker ovarium epitelial tidak terdiagnosis sampai keadaan stadium lanjut, menyebar dalam rongga abdomen atas (stadium III) atau lebih luas (stadium IV) dengan harapan hidup selama 5 tahun hanya sekitar 15–20%, sedangkan harapan hidup stadium I dan II diperkirakan dapat mencapai 90% dan 70%.

1.2          Rumusan Masalah
     Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut;
a.     Apa pengertian dari karsinoma ovarium?
b.     Apa saja etiologi dari karsinoma ovarium?
c.     Apa saja klasifikasi dari karsinoma ovarium?
d.    Bagaimana manifestasi klinis dari karsinoma ovarium?
e.     Apa saja komplikasi dari karsinoma ovarium?
f.     Bagaimana penatalaksanaan dari karsinoma ovarium?
g.     Bagaimana patofisiologi dan WOC dari karsinoma ovarium?
h.     Bagaimana pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan laboratorium.
I.     Bagaimana Asuhan keperawatan teoritis dari karsinoma ovarium?  

1.3     Tujuan
a.         Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan memahami tentang “Asuhan Keperawatan Klien dengan Karsinoma Ovarium”.
b.        Tujuan Khusus
1)        Perawat mampu melaksanakan pengkajian terhadap pasien dengan penyakit Karsinoma Ovarium.
2)        Perawat mampu menyusun diagnosa keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian
3)        Perawat mampu menyusun perencanaan keperawatan terhadap pasien dengan penyakit Karsinoma Ovarium dengan kebutuhan pasien.
4)        Perawat mampu melakukan intervensi tindakan yang nyata sesuai dengan perencanaan tindakan keperawatan dan prioritas masalah.

1.4          Manfaat
a.         Bagi Penulis
Memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam proses pembuatan asuhan keperawatan khususnya pada pokok pembahasan Asuhan Keperawatan Klien dengan Karsinoma Ovarium.
b.         Bagi Pembaca
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang Asuhan Keperawatan Klien dengan Karsinoma Ovarium.



















BAB II
PEMBAHASAN

2.1          Anatomi dan Fisiologi Ovarium
Ovarium adalah salah satu organ sistem reproduksi wanita, sistem reproduksi terdiri dari ovarium, tuba fallopi, uterus dan vagina. Kedua ovarium terletak dikedua sisi uterus dalam rongga pelvis dengan panjang sekitar 1,5 – 2 inchi dan lebar < 1 inchi, ovarium akan mengecil setelah menopause. Ovarium memiliki dua fungsi yaitu: 1. Menyimpan ovum (telur) yang dilepaskan satu setiap bulan, ovum akan melalui tuba fallopi tempat fertilisasi dengan adanya sperma kemudian memasuki uterus, jika terjadi proses pembuatan (fertilisasi) ovum akan melekat (implantasi) dalam uterus dan berkembang menjadi janin (fetus), ovum yang tidak mengalami proses fertilisasi akan dikeluarkan dan terjadinya menstruasi dalam waktu 14 hari setelah ovulasi. 2. Memproduksi hormon estrogen dan progesteron, kedua hormon ini berperan terhadap pertumbuhan jaringan payudara, gambaran spesifik wanita dan mengatur siklus menstruasi.

2.2          Konsep Dasar Teoritis Karsinoma ovarium
A.          Pengertian
Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain, panggul, dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru.
Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. (Wingo, 1995). Karsinoma ovarium epithelial adalah salah satu kanker ginekologi yang paling sering dan penyebab kematian kelima akibat kanker pada perempuan(CancerNet, 2001). Kanker ovarium berasal dari sel – sel yang menyusun ovarium yaitu sel epitelial, sel germinal dan sel stromal. Sel kanker dalam ovarium juga dapat berasal dari metastasis organ lainnya terutama sel kanker payudara dan kanker kolon tapi tidak dapat dikatakan sebagai kanker ovarium.

B.        Etiologi
Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti. Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium, diantaranya:
1)        Hipotesis incessant ovulation Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan pada sel – sel epitel ovarium untuk penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi. Proses penyembuhan sel – sel epitel yang terganggu dapat menimbulkan proses transformasi menjadi sel – sel tumor.
2)        Hipotesis androgen Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. Hal ini didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. Dalam percobaan in – vitro, androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium. Penyebab dari kanker ovarium adalah multifaktor. Teori pertama menerangkan mengenai trauma minor yang berlangsung terus menerus selama siklus ovulasi (siklus pengeluaran telur setiap bulannya), teori kedua menerangkan mengenai pajanan indung telur terhadap hormon gonadotropin dapat meningkatkan risiko keganasan. Teori ketiga menerangkan mengenai karsinogen (zat yang dapat merangsang terjadinya keganasan) dapat berkontak dengan indung telur melalui saluran reproduksi. Ca mamae diduga memeliki hubungan terhadap kejadian kanker ovarium pada wanita.. sebaliknya pada wanita yang mengidap Ca ovarium juga mempunyai faktor resiko mengidap Ca mamae 3 – 4 kali lipat.



C.           Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan Ca ovarium adalah :
1)        Diit tinggi lemak
2)        Merokok dan alcohol
3)        Infertilitas
4)        Riwayat Ca mamae, kolon, dan endometrium
5)        Nullipara

D.          Patofisiologi
Tidak ada penyebab definitif dan Ca. Ovarium yang ada berupa faktor- faktor resiko seperti :
1)            Genetik berperan dalam menimbulkan penyakit ini, dan banyak dokter menyarankan pemeriksaan bimanual bagi wanita yang mempunyai ibu saudara perempuan dengan Ca.ovarium, karena adanya gen BRCAI dan BRCA2 yang bersifat autosom
2)            Pada nulipara yang berusia > 45 tahun atau pada wanita dengan kehamilan 1 berusia > 30 tahun biasanya mengalami penurunan atau perubahan fungsi sel ovarium yang menyebab gangguan proliferasi
3)            Riwayat tumor jinak beresiko menimbulkan kegagalan differensial sel (anaplasia) yang menyebabkan pelumorfis (dari bentuk dan ukurannya)
4)            Pada wanita yang terpapar terus menerus oleh talk akan terjadi penumpukan talk di organ genitalia, lalu tubuh menganggap ini sebagai benda asing dan terjadilah reaksi antibodi sehingga terjadi gangguan proliferasi
5)            Merokok merupakan salah satu zat kasinogenk yang bisa menimbulkan Ca.ovarium, sedangkan riwayat peminum alkohol akan meningkatkan radikal bebas sehingga mengakibatkan jejas jaringan terutama pada sel ovarium
Gangguan proliferasi menyebabkan timbulnya sel – sel kanker pada sel epitel ovarium. Sel – sel tumor akan mendesak jaringan disekitarnya seperti ; menekan kolon yang menyebabkan gangguan defekasi dan juga bisa terjadi hiperfleks muskulus detrusor yang menyebabkan sering berkemih sehingga genitalia menjadi lembab dan lama kelamaan mudah timbul lesi.
Kanker ovarium bermetatasis dengan invasi langsung struktur yang berdekatan dengan abdomen dan pelvis dan sel – sel yang menempatkan diri pada rongga abdomen dan pelvis melalui penyebaran benih tumor melalui cairan peritoneal ke rongga abdomen (mengakibatkan peritonitis) dan rongga panggul. Jika metastasis melalui sistem bisa bermetastasis ke mammae (Ca.mammae), colon (gangguan BAB) dan pleura (efusi pleura). Sel – sel ini mengikuti sirkulasi alami cairan peritoneal sehingga inplantasi dan pertumbuhan keganasan selanjutnya dapat timbul pada semua permukaan interperitoneal. Limfatik yang disalurkan ke ovarium juga merupakan jalur untuk penyebaran sel – sel ganas. Semua kelenjar pada pelvis dan kavum abdominal pada akhirnya akan terkena. Penyebaran awal kanker ovarium dengan jalur interperitoneal dan limfatik muncul seiring dengan waktu adalah perasaan berat pada pelvis, sering berkemih dan disuria, dan perubahan fungsi gastrointestinal, seperti rasa penuh, mual dan rasa tidak enak diperut, cepat kenyang, dan konstipasi. Pada beberapa perempuan dapat terjadi perdarahan abnormal vagina sekunder akibat hyperplasia endometrium bila tumor menghasilkan estrogen; beberapa tumor menghasilkan testosterone dan menyebabkan virilisasi. Gejala – gejala keadaan akut pada abdomen dapat timbul mendadak bila terdapat perdarahan dalam tumor, rupture, atau torsi ovarium. Namun, tumor ovarium paling sering terdeteksi selama pemeriksaan pelvis rutin.
Jika ukuran Ca ovarium besar maka bisa terjadi obstruksi jalan lahir yang meyebabkan ruptur uteri. Beberapa tumor dapat memproduksi testosteron yang menyebabkan gangguan hormonal sehingga menimbulkan gangguan haid berupa perdarahan abnormal yang jika terjadi terus menerus bisa berakibat anemia (Sylvia. A. Price, 1995).
Pathway



E.           Klasifikasi Kanker Ovarium
Adapun klasifikasi kanker ovarium adalah sebagai berikut;
1)        Tumor epitelial
Tumor epitelial ovarium berkembang dari permukaan luar ovarium, pada umumnya jenis tumor yang berasal dari epitelial adalah jinak, karsinoma adalah tumor ganas dari epitelial ovarium (EOC’s : Epitelial ovarium carcinomas) merupakan jenis tumor yang paling sering ( 85 – 90% ) dan penyebab kematian terbesar dari jenis kanker ovarium. Gambaran tumor epitelial yang secara mikroskopis tidak jelas teridentifikasi sebagai kanker dinamakan sebagai tumor bordeline atau tumor yang berpotensi ganas (LMP tumor : Low Malignat Potential).
Beberapa gambaran EOC dari pemeriksaan mikroskopis berupa serous, mucous, endometrioid dan sel jernih.
2)        Tumor germinal
Tumor sel germinal berasal dari sel yang menghasilkan ovum atau telur, umumnya tumor germinal adalah jinak meskipun beberapa menjadi ganas, bentuk keganasan sel germinal terutama adalah teratoma, dysgerminoma dan tumor sinus endodermal. Insiden keganasan tumor germinal terjadi pada usia muda kadang dibawah usia 20 tahun, sebelum era kombinasi kemoterapi harapan hidup satu tahun kanker ovarium germinal stadium dini hanya mencapai 10 – 19% sekarang ini 90 % pasien kanker ovarium germinal dapat disembuhkan dengan fertilitas dapat dipertahankan.
3)        Tumor stromal
Tumor ovarium stromal berasal dari jaringan penyokong ovarium yang memproduksi hormon estrogen dan progesteron, jenis tumor ini jarang ditemukan, bentuk yang didapat berupa tumor theca dan tumor sel sartoli – leydig termasuk kanker dengan derajat keganasan yang rendah.

F.            ManifestasiKlinis
Gejala umum bervariasi dan tidak spesifik. Pada stadium awal berupa :
1)        Haid tidak teratur
2)        Ketegangan menstrual yang terus meningkat
3)        Menoragia
4)        Nyeri tekan pada payudara
5)        Menopause dini
6)        Rasa tidak nyaman pada abdomen
7)        Dispepsia
8)        Tekanan pada pelvis
9)        Sering berkemih
10)    Flatulenes
11)    Rasa begah setelah makan makanan kecil
12)    Lingkar abdomen yang terus meningkat

G.          Stadium.
Stadium kanker ovarium primer menurut FIGO (Federation InternationalofGinecologies and Obstetricians ) 1987, adalah :
Stadium I : pertumbuhan terbatas pada ovarium
1)        Stadium 1a : pertumbuhan terbatas pada suatu ovarium, tidak ada asietas yang berisi sel ganas, tidak ada pertumbuhan di permukaan luar, kapsul utuh.
2)        Stadium 1b : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium, tidak asietas, berisi sel ganas, tidak ada tumor di permukaan luar, kapsul intake.
3)        Stadium 1c : tumor dengan stadium 1a dan 1b tetapi ada tumor dipermukaan luar atau kedua ovarium atau kapsul pecah atau dengan asietas berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif.
Stadium II : Pertumbuhan pada satu atau dua ovarium dengan perluasan ke panggul
1)        Stadium 2a : perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba
2)        Stadium 2b : perluasan jaringan pelvis lainnya
3)        Stadium 2c : tumor stadium 2a dan 2b tetapi pada tumor dengan permukaan satu atau kedua ovarium, kapsul pecah atau dengan asitas yang mengandung sel ganas dengan bilasan peritoneum positif.
Stadium III : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum di luar pelvis dan atau retroperitoneal positif. Tumor terbatas dalam pelvis kecil tetapi sel histologi terbukti meluas ke usus besar atau omentum.
1)        Stadium 3a : tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi secara histologi dan dikonfirmasi secara mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan (seeding) dipermukaan peritoneum abdominal.
2)        Stadium 3b : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant dipermukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopis, diameter melebihi 2 cm, dan kelenjar getah bening negativ.
3)        Stadium 3c : implant di abdoment dengan diameter > 2 cm dan atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif.
Stadium IV : pertumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. Bila efusi pleura dan hasil sitologinya positif dalam stadium 4, begitu juga metastasis ke permukaan liver.
Derajat keganasan kanker ovarium
1)        Derajat 1 : differensiasi baik
2)        Derajat 2 : differensiasi sedang
3)        Derajat 3 : differensiasi buruk
Dengan derajat differensiasi semakin rendah pertumbuhan dan prognosis akan lebih baik.
Table stadium klinis karsinoma ovarium:
Stadium I terbatas pada 1 / 2 ovarium
I A
Mengenal 1 ovarium, kapsul utuh, ascites (-)
I B
Mengenai 2 ovarium, kapsul utuh, ascites (-)
I C
Kriteria I A / I B disertai 1 > lebih keadaan sbb :
1. Mengenai permukaan luar ovarium
2. Kapsul ruptur
3. Ascites (+)
Stadium II perluasan pada rongga pelvis
II A
Mengenai uterus / tuba fallopi / keduanya
II B
Mengenai organ pelvis lainnya
II C
Kriteria II A / II B disertai 1 / > keadaan sbb :
1. Mengenai permukaan ovarium
2. Kapsul ruptur
3. Ascites (+)
Stadium III kanker meluas mengenai organ pelvis dan intraperitoneal
III A
Makroskopis : terbatas 1 / 2 ovarium
Mikroskopis : mengenai intraperitoneal
III B
Makroskopis : mengenai intraperitoneal diameter < 2 cm, KGB (-)
III C
  1. Meluas mengenai KGB dan /
  2. Makroskopis mengenai intraperitoneal diameter > 2 cm


H.          Penatalaksanaan Penatalaksanaan
Sebagian besar kanker ovarium memerlukan pengobatan dengan kemoterapi. Hanya kanker ovarium stadium awal saja (stadium 1a dan 1b dengan derajat diferensiasi sel yang baik/sedang) yang tidak memerlukan kombinasi pengobatan.
Metode terapi adalah sebagai berikut:
1)        Kemoterapi
Dengan pemanasan intraperitoneal: melalui insisi perkutan dimasukkan dua tabung silicon intraperitoneal, satu diletakkan di permukaan hati subdiafragma, satu lagi di resesus posterior kavum pelvis, ujungnya difiksasi di dinding abdomen. Obat yang diinfuskan biasanya FU, DDP, CTX dll. di dalam 3000-4000cc larutan garam faal. Sebelumnya larutan itu dipanaskan hingga 42oC, dan upayakan temperatur itu dipertahankan. Lalu melalui satu tabung silicon dialirkan ke rongga abdomen, setelah 8-12 jam larutan dikeluarkan lewat tabung yang lainnya. Kecepatan pemberian adalah 500cc per jam. Setiap minggu dilakukan 1 – 2 kali. Efek buruknya berupa sakit perut, untuk itu dapat serentak diberikan lidokain intraperitoneal.
2)        Imunoterapi intraperitoneal
Masukkan tabung ke rongga pelvis, abdomen, suntikkan obat kemoterapi, 1 – 2 kali per minggu, serentak disuntikkan imunomodulator, umumnya digunakan vaksen kuman Serratia marcescen (S311), 1cc per kali. Pasca injeksi dapat timbul demam yang mencapai 39oC, 2-3 jam kemudian reda spontan. Demam pertanda respons imun bekerja, tidak akan berdampak buruk.
3)        Krioablasi argon – helium
Terhadap massa ovarium, tidak peduli itu lesi primer atau metastasis rongga pelvis dan dinding abdomen, dapat memakai krioablasi argon-helium. Metode ini setara dengan operasi debulking, rudapaksa bagi pasien jauh lebih kecil dibandingkan operasi.
4)      Terapi intra-arteri
Melalui arteri femoralis dimasukkan kateter hingga mencapai arteri ovarial, suntikkan emulsi campuran kemoterapi (misal DDP) dan lipiodol. Jepang melaporkan terapi dengan cara ini, setelah 1 bulan massa ovarium menyusut rata-rata 49%. Kami sering mengombinasikan cara ini dengan krioablasi argon-helium. Seorang pasien dari kota Shenyang di RRC, usia 56 tahun, kavum pelvis penuh dengan tumor disertai asites, setelah terapi intra-arteri dan krioablasi argon-helium, lesi lenyap total, hingga kini 18 bulan tidak tampak kekambuhan.
Terapi dari kanker ovarium tergantung dari stadium dari penyakit, tipe penyakit (primer atau rekuren ), terapi pilihan, dan kondisi tubuh.
5)      Kanker Ovarium atipikal
Kanker atipikal ini memiliki sifat yang berbeda dari kanker ganas ovarium tipe lainnya. Biasa terdapat pada wanita usia 40 tahun (keganasan pada usia 60 tahun). 20% stadium dini dapat menyebar ke intraabdomen (perut) dan memerlukan terapi operasi. Pasien kanker atipikal ovarium dengan stadium dini yang masih ingin mempertahankan kesuburannya dapat melakukan unilateral salpingo-oophorectomi (operasi pengangkatan indung telur yang mengandung kanker).
6)        stadium dini kanker ovarium
Stadium dini kanker ovarium adalah stadium I dan II. Terapi yang dapat dilakukan pada stadium ini adalah operasi (total abdominal histerektomi, bilateral salpingo-oophorektomi), kemoterapi (pada kasus dengan angka kesembuhan rendah, diberikan setelah operasi), dan radiasi
7)        Stadium Lanjut kanker ovarium
Stadium ini selalu membutuhkan terapi operasi yang optimal diikuti kemoterapi setelah operasi untuk meningkatkan kemampuan bertahan hidup. Radiasi seluruh bagian perut (whole abdominal radiation) dapat menjadi alternatif dari kemoterap
8)        Kanker ovarium yang kambuh
Pasien dengan kanker ovarium yang kambuh adalah kandidat untuk dilakukan operasi yang kedua kalinya dengan kemoterapi menggunakan agen yang berbeda. Terapi hormonal juga dapat digunakan. Terapi yang masih dalam penelitian adalah terapi stem sel, imunoterapi menggunakan interferon, dan terapi genetik.
Kanker ovarium epitelial :
Stadium I : Pilihan terapi stadium I dengan derajat diferensiasi baik sampai sedang, operasi salpingo-ooforektomi bilateral (operasi pengangkatan tuba fallopi dan ovarium) atau disertai histerektomi abdominal total (pengangkatan uterus) dan sebagian jaringan abdominal, harapan hidup selama 5 tahun mencapai 90%, pada stadium I dengan diferensiasi buruk atau stadium IC pilihan terapi berupa:
a)    Radioterapi
b)   Kemoterapi sistemik
c)    Histerektomi total abdominal dan radioterapi
Stadium II: Pilihan terapi utama operasi disertai kemoterapi atau radioterapi, dengan terapi ajuvan memperpanjang waktu remisi dengan harapan hidup selama 5 tahun mendekati 80 %.
Stadium III dan IV:
Sedapat mungkin massa tumor dan daerah metastasis sekitarnya diangkat (sitoreduktif) berupa pengeluran asites, omentektomi, reseksi daerah permukaan peritoneal, dan usus, jika masih memungkinkan salpingo-ooforektomi bilateral dilanjutkan terapi ajuvan kemoterapi dan atau radioterapi.
Kanker ovarium germinal :
a)    Disgerminoma: pengangkatan ovarium dan tuba fallopi dimana kanker ditemukan dilanjutkan radioterapi atau kemoterapi.
b)   Tumor sel germinal lainnya: pengangkatan ovarium dan tuba fallopi dilanjutkan kemoterapi.
Kanker ovarium stromal :
a)    Operasi yang dilanjutkan dengan kemoterapi.
Kombinasi standar sistemik kemoterapi berupa TP (paclitaxel + cisplatin atau carboplatin), CP (cyclophosphamide + cisplatin), CC (cyclophosphamide + carboplatin).
Sejak tahun 1993 perkumpulan ginekologi onkologi (GOG) melaporkan bahwa paclitaxel dengan kombinasi cisplatin kini merupakan terapi lini pertama untuk kanker ovarium.
















BAB III
LANDASAN TEORI

1        Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994). Pengkajian pasien dengan Karsinoma Ovarium meliputi:
1)        Data Biografi dan Demografi
Data biografi meliputi identifikasi pasien yaitu nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat dan identitas penanggung jawab.
Data demografi meliputi: usia, golongan darah, dan lingkungan.
2)      Keluhan Utama (alasan utama datang ke rumah sakit)
3)      Terkait keluhan pasien saat masuk RS seperti: Haid tidak teratur, ketegangan menstrual yang terus meningkat, menoragia, nyeri tekan pada payudara, menopause dini, rasa tidak nyaman pada abdomen, dyspepsia, tekanan pada pelvis, sering berkemih, flatulenes, rasa begah setelah makan makanan kecil, lingkar abdomen yang terus meningkat.
4)      Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Riwayat kesehatan sekarang pada pasien karsinoma Ovarium adalah Haid tidak teratur, ketegangan menstrual yang terus meningkat, menoragia, nyeri tekan pada payudara, menopause dini, rasa tidak nyaman pada abdomen, dyspepsia, tekanan pada pelvis, sering berkemih, flatulenes, rasa begah setelah makan makanan kecil, lingkar abdomen yang terus meningkat.
5)      Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)
Riwayat kesehatan dahulu yang berhubungan dengan penyakit klien sekarang misalnya: Ca mamae diduga memeliki hubungan terhadap kejadian kanker ovarium pada wanita.. sebaliknya pada wanita pada yang mengidap Ca ovarium juga mempunyai faktor resiko mengidap Ca mamae 3-4 kali lipat.
6)      Riwayat Reproduksi
Riwayat reproduksi meliputi beberapa hal yang berhubungan masalah reproduksi seperti; bagaimana perjalanan klinis siklus haid teratur atau tidak serta bagaimana durasi haid normal atau tidak.
7)      Riwayat obstetric
Adapun riwayat obstetric terdiri dari masalah; kehamilan, persalinan, dan nifas yang dialami oleh klien yang bersangkutan.
8)      Riwayat menstruasi
Adanya riwayat menstruasi yang tidak teratur, lam dan siklus haid, menarche
9)        Riwayat Perkawinan
Adanya riwayat menikah pada usia dini (kurang dari 16 tahun), mempunyai pasangan lebih dari satu, sering melahirkan dari jarak, kehamilan terlalu dekat.
10)  Riwayat keluarga berencana
Adanya riwayat penggunaan alat kontrasepsi hormal.
11)    Faktor Predisposisi.
Dalam mengkaji faktor predisposisi akan ditemukan hal yang dapat menyebabkan terjadinya kecemasan, antara lain: peristiwa traumatik, konflik yang dialami, frustasi, gangguan fisik, pola keluarga menghadapi stress, riwayat gangguan kecemasan dalam kelaurga, dan pengobatan yang pernah didapat.

Pemeriksaan Fisik
Data dasar pengajian pasien:
1        Aktivitas / istirahat
Gejala : Kelemahan dan / keletihan
Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur, misalnya : nyeri, ansietas.
Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsiogen lingkungan.
2        Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyeri dada pada pengerahan kerja
Kebiasaan : Perubahan pada TD
3        Integritas ego
Gejala : Factor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stress (misalnya merokok,minum alcohol, mununda mencari pengobatan, keyakinan religius / spiritual)
Masalah tentang perubahan dalam penampilan, misalnya
pembedahan.
Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bernakna, rasa bersalah, kehilangan control, depresi.
Kebiasaan : Menyangkal, menarik diri, marah
4        Eliminasi
Gejala : Perubahan pada pola defekasi, misalnya nyeri pada defekasi
Perubahan eliminasi urinarius, misalnya sering berkemih.
Tanda : Perubahan pada bising usus, distensi abdomen.
5        Makanan / cairan
Gejala : Kebiasaan diet buruk, misalnya rendah serat tinggi lemak bahan pengawet.
Anoreksi, mual / muntah
Perubahan pada berat badan ; penurun berat badan
Tanda : Perubahan pada kelembaban / turgo kulit ; edema
6        Neurosensori
Gejala : Pusing ; sinkope
7        Nyeri / kenyamanan
Gejala : Derajat nyeri bervariasi, misalnya ketidak nyamanan ringan
sampai nyeri berat.
8        Pernapasan
Gejala : Merokok, hidup dengan seseorang yang merokok.
Pemajanan asbes
9        Keamanan
Gejala : Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen
Pemanjana matahari lama / berlebihan.
Tanda : Demam, Ruam kulit, ulserasi
10    Seksualitas
Gejala : Masalah seksual, misalnya dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.
11    Interaksi sosial
Gejala : Ketidakadekuatan / kelemahan system pendukung.
Masalah tentang fungsi / tanggung jawab peran
12    Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : Riwayat kaker pada keluarga, misalnya ibu / Bibi dengan kanker payudara, kanker ovarium, kanker kolon
Riwayat pengobatan : Pengobatan sebelumnya untuk tempat kanker dan pengobatan yang diberikan.



2        Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan penekanan perut bagian bawah akibat kanker metastasis.
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan gangguan pernafasan akibat penekanan asites pada diafragma.
3) Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, dan gangguan GI akibat adanya kanker metastasis.
4) Ansietas berhubungan dengan stres akibat kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
(Doenges, Marilyn, 1993; Reader, 1997)



3. Rencana Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan penekanan perut bagian bawah akibat kanker metastasis.
Tujuan : Dalam 2x 24 jam rasa nyeri berkurang
Kriteria Hasil : Setelah diberi tindakan keperawatan skala nyeri berkurang
Intervensi :
a) Kolaborasi tindakan pembedahan untuk pengangkatan kanker.
Rasional :Pembedahan bertujuan untuk menghilangkan faktor utama penyebab nyeri.
b) Kolabarasi untuk pemberian terapi analgesik.
Rasional :Menghilangkan rasa nyeri
c) Atur posisi senyaman mungkin.
Rasional :Menurunkan tingkat ketegangan pada daerah nyeri
d) Ajarkan dan lakukan tehnik relaksasi.
Rasional : Merelaksasi otot – otot tubuh
e) Kaji tingkat dan intensitas nyeri.
Rasional :Mengidentifikasi skala dan perkembangan nyeri

2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan gangguan pernafasan akibat penekanan asites pada diafragma.
Tujuan : Mengembalikan pola nafas klien menjadi normal kembali
Kriteria Hasil :
a. Klien tidak mengeluh sesak
b. RR normal kembali antara 20 x/mnt
c. Klien tidak terlihat cemas dan gelisah
Intervensi :
a. Batasi aktivitas dan mobilisasi klien
Rasional :Istirahat dapat mengurangi konsumsi O2 klien
b. Mengistirahatkan klien dengan posisi semifowler
Rasional :Posisi semi fowler menambah ruang ekspansi dada
c. Longgarkan baju klien
Rasional :Baju klien yang longgar mempermudah klien dalam bernafas
d. Kolaborasi pemberian terapi oksigen
Rasional :Terapi oksigen dibutuhkan jika klien membutuhkan O2 lebih
e. Tenangkan klien
Rasional :Jika klien tenang maka konsumsi O2 semakin efisien

3) Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, dan gangguan GI akibat adanya kanker metastasis.
Tujuan : Dalam 2x 24 jam nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil : mual (-), nafsu makan pasien meningkat, berat badan stabil, penambahan berat badan progresif
Intervensi :
a. Pantau masukan makanan setiap hari.
Rasional :Mengidentisifikasi kekuatan atau defisiensi nutrisi.
b. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya protein kaya nutrient, dengan masukan cairan adekuat.
Rasional : Kebutuhan jaringan metabolic ditingkatkan begitu juga cairan (untuk menghilangkan produk sisa).
c. Dorong penggunaan suplement dan makan sering atau lebih sedikit yang dibagi-bagi selama sehari
Rasional : Suplemen dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan kalori dan protein adekuat.
d. Kontrol factor lingkungan. Hindari terlalu terlalu manis, berlemak, atau makanan pedas.
Rasional :Dapat mentriger respons mual muntah.
e. Dorong penggunaan teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajenasi, latihan sedang sebelum makan.
Rasional : Dapat mencegah awitan atau menurunkan beratnya mual, penurunan anoreksia, dan memungkinkan pasien meningkatkan masukan oral.
f. Identifikasi pasien yang mengalami mual atau muntah yang diantisipasi.
Rasional :Mual atau muntah psikogenik terjadi karena perubahan lingkungan pengobatan atau rutinitas pasien pada hari pengobatan mungkin efektif.

4) Ansietas berhubungan dengan stres akibat kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
Tujuan : Dalam 2x 24 jam klien tidak terlihat cemas dan gelisah
Kriteria hasil : Berkurangnya rasa takut, klien tahu dan mengerti tentang keadaan dirinya, klien dapat melakukan manajemen stress terhadap kondisinya
Intervensi :
a. Dengarkan dengan seksama apa keluh kesah klien
Rasional : Dengan mendengarkan keluh kesah klien maka akan mengurangi stress klien
b. Berikan solusi yang relevan
Rasional :Solusi relevan sangat dibutuhkan klien
c. Berikan informasi tentang kesehatan klien
Rasional :Informasi tentang keadaan klien sangat dibutuhkan
d. Temani klien dalam memutuskan sesuatu
Rasional :klien membutuhkan teman untuk berbagi
e. Berikan humor ringan kepada klien
Rasional :Humor sangat diperlukan klien untk mengurangi stress yang dirasakanya

4. Evaluasi
1) Klien merasa reda dari nyeri dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan
2) Klien dapat memperbaiki persepsi citra tubuh dan harga dirinya.
3) Tidak adanya tanda-tanda disfungsi seksual
4) Klien menyatakan paham tentang perubahan struktur dan fungsi seksual.
5) Mengidentifikasi kepuasan / praktik seksual yang diterima dan beberapaalternatif cara mengekspresikan keinginan seksual
















BAB III
PENUTUP
1        Kesimpulan
       Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain, panggul, dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru.
Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. (Wingo, 1995). Penyebab pasti kanker ovarium masih dipertanyakan, beberapa hal yang diperkirakan sebagai faktor resiko kanker ovarium adalah sebagai berikut: riwayat keluarga kanker ovarium dan kanker payudara, riwayat keluarga kanker kolon dan kanker endometrial,wanita diatas usia 50 – 75 tahun, wanita yang tidak memiliki anak(nullipara), wanita yang memiliki anak > 35 tahun, membawa mutasi gen BRCA1 atau BRCA2, sindroma herediter kanker kolorektal nonpolipoid.
2        Saran
Untuk wanita (terutama wanita yang berisiko) diperlukan kesadaran untuk melakukan deteksi dini Ca Ovarium.



















DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta
Donges, Marilynn E. 1999.Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta
file:///D:/KARSINOMA OVARIUM « Jadilah Yang Terbaik.htm
Gale, Danielle. 1999. Rencana asuhan keperawatan onkologi. Jakarta ;EGC
Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan. Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Price, Sylvia Anderson. 1995. patofisiologi. Konsep kliniks proses penyakit . jakarta : EGC.
Sastrawinata, sulaiman. 1981. Ginekologi. Bandung : Elstar offset
Tambunan, Gani 1995. diagonosis dan tatalaksanaan sepuluh jenis kanker terbanyak di Indonesia. Jakarata: EGC
www. Carcinoma ovarium.com
www. Kanker ovarium.co.id
Yatim, Faisal 2005. penyakit kandung . jakarta : pustaka popular obor.