ASUHAN KPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN CA OVARI
Disusun Oleh :
RONI SETIAWAN
SEKOLAH TINGGI ILMU
KEPERAWATAN HUSADA JOMBANG
PRODI S-I KEPERAWATAN
TAHUN 2017
BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sampai saat ini, kanker ovarium dikenal
sebagai “silent killer” karena biasanya tidak ditemukan gejala apapun sampai
diketahui telah menyebar ke bagian tubuh lain. Namun sebenarnya bukti baru
menunjukkan bahwa kebanyakan wanita mungkin memiliki gejala bahkan sejak tahap
awal kanker ini. Jika dideteksi sedini mungkin, kanker ini bisa diatasi.
Deteksi dini penting; masih, hanya sekitar 20 persen kanker ovarium ditemukan
sebelum pertumbuhan tumor telah menyebar di luar ovarium. Jika dideteksi sedini
mungkin harapan hidup jauh lebih tinggi ketimbang ketika kanker terlanjur
menyebar ke luar ovarium.
Angka kejadian kanker ovarium ini kira-kira
20% dari semua keganaan alat reproduksi wanita. Insiden rata-rata dari semua
jenis diperkirakan 15 kasus baru per 100.000 populasi wanita setahunnya. Menurut
data statistik American Cancer Society insiden kanker ovarium sekitar 4 % dari
seluruh keganasan pada wanita dan menempati peringkat kelima penyebab kematian
akibat kanker, diperkirakan pada tahun 2003 akan ditemukan 25.400 kasus baru
dan menyebabkan kematian sebesar 14.300, dimana angka kematian ini tidak banyak
berubah sejak 50 tahun yang lalu.
Kanker epitel ovarium atau dikenal dengan
kanker indung telur yang berasal dari sel epitel merupakan 90% kasus dari
seluruh kanker indung telur. Kanker indung telur merupakan penyebab kematian
ke-5 terbanyak di Amerika Serikat dan merupakan salah satu dari 7 keganasan
tersering di seluruh dunia. Kanker indung telur memiliki angka kematian yang
tinggi, dari 23.100 kasus baru kanker indung telur, sekitar 14.000 atau separuh
lebih wanita meninggal karena penyakit ini. Hampir 70 % kanker ovarium
epitelial tidak terdiagnosis sampai keadaan stadium lanjut, menyebar dalam
rongga abdomen atas (stadium III) atau lebih luas (stadium IV) dengan harapan
hidup selama 5 tahun hanya sekitar 15–20%, sedangkan harapan hidup stadium I
dan II diperkirakan dapat mencapai 90% dan 70%.
1.2
Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut;
a. Apa pengertian dari karsinoma ovarium?
b. Apa saja etiologi dari karsinoma ovarium?
c. Apa saja klasifikasi dari karsinoma
ovarium?
d. Bagaimana manifestasi klinis dari karsinoma
ovarium?
e. Apa saja komplikasi dari karsinoma ovarium?
f. Bagaimana penatalaksanaan dari karsinoma
ovarium?
g. Bagaimana patofisiologi dan WOC dari
karsinoma ovarium?
h. Bagaimana
pemeriksaan penunjang dan pemeriksaan laboratorium.
I. Bagaimana Asuhan
keperawatan teoritis dari karsinoma ovarium?
1.3
Tujuan
a.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan
memahami tentang “Asuhan Keperawatan Klien dengan Karsinoma Ovarium”.
b.
Tujuan Khusus
1)
Perawat mampu
melaksanakan pengkajian terhadap pasien dengan penyakit Karsinoma Ovarium.
2)
Perawat mampu
menyusun diagnosa keperawatan sesuai dengan hasil pengkajian
3)
Perawat mampu
menyusun perencanaan keperawatan terhadap pasien dengan penyakit Karsinoma
Ovarium dengan kebutuhan pasien.
4)
Perawat mampu
melakukan intervensi tindakan yang nyata sesuai dengan perencanaan tindakan
keperawatan dan prioritas masalah.
1.4
Manfaat
a.
Bagi Penulis
Memberikan
pengetahuan dan keterampilan dalam proses pembuatan asuhan keperawatan
khususnya pada pokok pembahasan Asuhan Keperawatan Klien dengan Karsinoma
Ovarium.
b.
Bagi Pembaca
Menambah wawasan dan
pengetahuan tentang Asuhan Keperawatan Klien dengan Karsinoma Ovarium.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1
Anatomi dan Fisiologi
Ovarium
Ovarium
adalah salah satu organ sistem reproduksi wanita, sistem reproduksi terdiri
dari ovarium, tuba fallopi, uterus dan vagina. Kedua ovarium terletak dikedua
sisi uterus dalam rongga pelvis dengan panjang sekitar 1,5 – 2 inchi dan lebar
< 1 inchi, ovarium akan mengecil setelah menopause. Ovarium memiliki dua
fungsi yaitu: 1. Menyimpan ovum (telur) yang dilepaskan satu setiap bulan, ovum
akan melalui tuba fallopi tempat fertilisasi dengan adanya sperma kemudian
memasuki uterus, jika terjadi proses pembuatan (fertilisasi) ovum akan melekat
(implantasi) dalam uterus dan berkembang menjadi janin (fetus), ovum yang tidak
mengalami proses fertilisasi akan dikeluarkan dan terjadinya menstruasi dalam
waktu 14 hari setelah ovulasi. 2. Memproduksi hormon estrogen dan progesteron,
kedua hormon ini berperan terhadap pertumbuhan jaringan payudara, gambaran
spesifik wanita dan mengatur siklus menstruasi.
2.2
Konsep Dasar Teoritis
Karsinoma ovarium
A.
Pengertian
Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor
ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita
berusia 50 – 70 tahun. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain, panggul,
dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah
menyebar ke hati dan paru-paru.
Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan
kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. (Wingo, 1995).
Karsinoma ovarium epithelial adalah salah satu kanker ginekologi yang paling sering
dan penyebab kematian kelima akibat kanker pada perempuan(CancerNet, 2001).
Kanker ovarium berasal dari sel – sel yang menyusun ovarium yaitu sel
epitelial, sel germinal dan sel stromal. Sel kanker dalam ovarium juga dapat
berasal dari metastasis organ lainnya terutama sel kanker payudara dan kanker
kolon tapi tidak dapat dikatakan sebagai kanker ovarium.
B.
Etiologi
Penyebab kanker ovarium belum diketahui secara pasti.
Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium,
diantaranya:
1)
Hipotesis incessant
ovulation Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan pada sel – sel epitel
ovarium untuk penyembuhan luka pada saat terjadi ovulasi. Proses penyembuhan
sel – sel epitel yang terganggu dapat menimbulkan proses transformasi menjadi
sel – sel tumor.
2)
Hipotesis androgen
Androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya kanker ovarium. Hal ini
didasarkan pada hasil percobaan bahwa epitel ovarium mengandung reseptor
androgen. Dalam percobaan in – vitro, androgen dapat menstimulasi pertumbuhan
epitel ovarium normal dan sel-sel kanker ovarium. Penyebab dari kanker ovarium
adalah multifaktor. Teori pertama menerangkan mengenai trauma minor yang
berlangsung terus menerus selama siklus ovulasi (siklus pengeluaran telur
setiap bulannya), teori kedua menerangkan mengenai pajanan indung telur
terhadap hormon gonadotropin dapat meningkatkan risiko keganasan. Teori ketiga
menerangkan mengenai karsinogen (zat yang dapat merangsang terjadinya
keganasan) dapat berkontak dengan indung telur melalui saluran reproduksi. Ca
mamae diduga memeliki hubungan terhadap kejadian kanker ovarium pada wanita..
sebaliknya pada wanita yang mengidap Ca ovarium juga mempunyai faktor resiko
mengidap Ca mamae 3 – 4 kali lipat.
C.
Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi
yang dapat menyebabkan Ca ovarium adalah :
1)
Diit tinggi lemak
2)
Merokok dan alcohol
3)
Infertilitas
4)
Riwayat Ca mamae,
kolon, dan endometrium
5)
Nullipara
D.
Patofisiologi
Tidak ada penyebab definitif dan Ca. Ovarium yang ada berupa faktor- faktor resiko seperti :
Tidak ada penyebab definitif dan Ca. Ovarium yang ada berupa faktor- faktor resiko seperti :
1)
Genetik berperan
dalam menimbulkan penyakit ini, dan banyak dokter menyarankan pemeriksaan
bimanual bagi wanita yang mempunyai ibu saudara perempuan dengan Ca.ovarium,
karena adanya gen BRCAI dan BRCA2 yang bersifat autosom
2)
Pada nulipara yang
berusia > 45 tahun atau pada wanita dengan kehamilan 1 berusia > 30 tahun
biasanya mengalami penurunan atau perubahan fungsi sel ovarium yang menyebab
gangguan proliferasi
3)
Riwayat tumor jinak
beresiko menimbulkan kegagalan differensial sel (anaplasia) yang menyebabkan pelumorfis
(dari bentuk dan ukurannya)
4)
Pada wanita yang
terpapar terus menerus oleh talk akan terjadi penumpukan talk di organ
genitalia, lalu tubuh menganggap ini sebagai benda asing dan terjadilah reaksi
antibodi sehingga terjadi gangguan proliferasi
5)
Merokok merupakan
salah satu zat kasinogenk yang bisa menimbulkan Ca.ovarium, sedangkan riwayat
peminum alkohol akan meningkatkan radikal bebas sehingga mengakibatkan jejas
jaringan terutama pada sel ovarium
Gangguan proliferasi
menyebabkan timbulnya sel – sel kanker pada sel epitel ovarium. Sel – sel tumor
akan mendesak jaringan disekitarnya seperti ; menekan kolon yang menyebabkan
gangguan defekasi dan juga bisa terjadi hiperfleks muskulus detrusor yang
menyebabkan sering berkemih sehingga genitalia menjadi lembab dan lama kelamaan
mudah timbul lesi.
Kanker ovarium
bermetatasis dengan invasi langsung struktur yang berdekatan dengan abdomen dan
pelvis dan sel – sel yang menempatkan diri pada rongga abdomen dan pelvis
melalui penyebaran benih tumor melalui cairan peritoneal ke rongga abdomen
(mengakibatkan peritonitis) dan rongga panggul. Jika metastasis melalui sistem
bisa bermetastasis ke mammae (Ca.mammae), colon (gangguan BAB) dan pleura
(efusi pleura). Sel – sel ini mengikuti sirkulasi alami cairan peritoneal
sehingga inplantasi dan pertumbuhan keganasan selanjutnya dapat timbul pada
semua permukaan interperitoneal. Limfatik yang disalurkan ke ovarium juga
merupakan jalur untuk penyebaran sel – sel ganas. Semua kelenjar pada pelvis
dan kavum abdominal pada akhirnya akan terkena. Penyebaran awal kanker ovarium
dengan jalur interperitoneal dan limfatik muncul seiring dengan waktu adalah
perasaan berat pada pelvis, sering berkemih dan disuria, dan perubahan fungsi
gastrointestinal, seperti rasa penuh, mual dan rasa tidak enak diperut, cepat
kenyang, dan konstipasi. Pada beberapa perempuan dapat terjadi perdarahan
abnormal vagina sekunder akibat hyperplasia endometrium bila tumor menghasilkan
estrogen; beberapa tumor menghasilkan testosterone dan menyebabkan virilisasi.
Gejala – gejala keadaan akut pada abdomen dapat timbul mendadak bila terdapat
perdarahan dalam tumor, rupture, atau torsi ovarium. Namun, tumor ovarium
paling sering terdeteksi selama pemeriksaan pelvis rutin.
Jika ukuran Ca ovarium besar maka bisa terjadi obstruksi jalan lahir yang meyebabkan ruptur uteri. Beberapa tumor dapat memproduksi testosteron yang menyebabkan gangguan hormonal sehingga menimbulkan gangguan haid berupa perdarahan abnormal yang jika terjadi terus menerus bisa berakibat anemia (Sylvia. A. Price, 1995).
Jika ukuran Ca ovarium besar maka bisa terjadi obstruksi jalan lahir yang meyebabkan ruptur uteri. Beberapa tumor dapat memproduksi testosteron yang menyebabkan gangguan hormonal sehingga menimbulkan gangguan haid berupa perdarahan abnormal yang jika terjadi terus menerus bisa berakibat anemia (Sylvia. A. Price, 1995).
Pathway
E.
Klasifikasi Kanker Ovarium
Adapun klasifikasi
kanker ovarium adalah sebagai berikut;
1)
Tumor epitelial
Tumor epitelial ovarium berkembang dari permukaan luar
ovarium, pada umumnya jenis tumor yang berasal dari epitelial adalah jinak,
karsinoma adalah tumor ganas dari epitelial ovarium (EOC’s : Epitelial ovarium
carcinomas) merupakan jenis tumor yang paling sering ( 85 – 90% ) dan penyebab
kematian terbesar dari jenis kanker ovarium. Gambaran tumor epitelial yang
secara mikroskopis tidak jelas teridentifikasi sebagai kanker dinamakan sebagai
tumor bordeline atau tumor yang berpotensi ganas (LMP tumor : Low Malignat
Potential).
Beberapa gambaran EOC dari pemeriksaan mikroskopis
berupa serous, mucous, endometrioid dan sel jernih.
2)
Tumor germinal
Tumor sel germinal berasal dari sel yang menghasilkan
ovum atau telur, umumnya tumor germinal adalah jinak meskipun beberapa menjadi
ganas, bentuk keganasan sel germinal terutama adalah teratoma, dysgerminoma dan
tumor sinus endodermal. Insiden keganasan tumor germinal terjadi pada usia muda
kadang dibawah usia 20 tahun, sebelum era kombinasi kemoterapi harapan hidup
satu tahun kanker ovarium germinal stadium dini hanya mencapai 10 – 19%
sekarang ini 90 % pasien kanker ovarium germinal dapat disembuhkan dengan fertilitas
dapat dipertahankan.
3)
Tumor stromal
Tumor ovarium stromal berasal dari jaringan penyokong
ovarium yang memproduksi hormon estrogen dan progesteron, jenis tumor ini
jarang ditemukan, bentuk yang didapat berupa tumor theca dan tumor sel sartoli
– leydig termasuk kanker dengan derajat keganasan yang rendah.
F.
ManifestasiKlinis
Gejala umum
bervariasi dan tidak spesifik. Pada stadium awal berupa :
1)
Haid tidak teratur
2)
Ketegangan menstrual
yang terus meningkat
3)
Menoragia
4)
Nyeri tekan pada
payudara
5)
Menopause dini
6)
Rasa tidak nyaman
pada abdomen
7)
Dispepsia
8)
Tekanan pada pelvis
9)
Sering berkemih
10) Flatulenes
11) Rasa begah setelah makan makanan kecil
12) Lingkar abdomen yang terus meningkat
G.
Stadium.
Stadium kanker ovarium primer menurut FIGO (Federation
InternationalofGinecologies and Obstetricians ) 1987, adalah :
Stadium
I : pertumbuhan terbatas pada ovarium
1)
Stadium 1a :
pertumbuhan terbatas pada suatu ovarium, tidak ada asietas yang berisi sel
ganas, tidak ada pertumbuhan di permukaan luar, kapsul utuh.
2)
Stadium 1b :
pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium, tidak asietas, berisi sel ganas, tidak
ada tumor di permukaan luar, kapsul intake.
3)
Stadium 1c : tumor
dengan stadium 1a dan 1b tetapi ada tumor dipermukaan luar atau kedua ovarium
atau kapsul pecah atau dengan asietas berisi sel ganas atau dengan bilasan
peritoneum positif.
Stadium II : Pertumbuhan
pada satu atau dua ovarium dengan perluasan ke panggul
1)
Stadium 2a :
perluasan atau metastasis ke uterus dan atau tuba
2)
Stadium 2b : perluasan
jaringan pelvis lainnya
3)
Stadium 2c : tumor
stadium 2a dan 2b tetapi pada tumor dengan permukaan satu atau kedua ovarium,
kapsul pecah atau dengan asitas yang mengandung sel ganas dengan bilasan
peritoneum positif.
Stadium III : tumor
mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant di peritoneum di luar pelvis
dan atau retroperitoneal positif. Tumor terbatas dalam pelvis kecil tetapi sel
histologi terbukti meluas ke usus besar atau omentum.
1)
Stadium 3a : tumor
terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi secara
histologi dan dikonfirmasi secara mikroskopis terdapat adanya pertumbuhan
(seeding) dipermukaan peritoneum abdominal.
2)
Stadium 3b : tumor
mengenai satu atau kedua ovarium dengan implant dipermukaan peritoneum dan
terbukti secara mikroskopis, diameter melebihi 2 cm, dan kelenjar getah bening
negativ.
3)
Stadium 3c : implant
di abdoment dengan diameter > 2 cm dan atau kelenjar getah bening retroperitoneal
atau inguinal positif.
Stadium IV : pertumbuhan
mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. Bila efusi pleura dan
hasil sitologinya positif dalam stadium 4, begitu juga metastasis ke permukaan
liver.
Derajat
keganasan kanker ovarium
1)
Derajat 1 :
differensiasi baik
2)
Derajat 2 :
differensiasi sedang
3)
Derajat 3 :
differensiasi buruk
Dengan derajat
differensiasi semakin rendah pertumbuhan dan prognosis akan lebih baik.
Table stadium klinis
karsinoma ovarium:
Stadium I terbatas pada 1 / 2 ovarium
|
|
I A
|
Mengenal 1 ovarium, kapsul utuh, ascites (-)
|
I B
|
Mengenai 2 ovarium, kapsul utuh, ascites (-)
|
I C
|
Kriteria I A / I B disertai 1 > lebih keadaan sbb
:
1. Mengenai permukaan luar ovarium 2. Kapsul ruptur 3. Ascites (+) |
Stadium II perluasan pada rongga pelvis
|
|
II A
|
Mengenai uterus / tuba fallopi / keduanya
|
II B
|
Mengenai organ pelvis lainnya
|
II C
|
Kriteria II A / II B disertai 1 / > keadaan sbb :
1. Mengenai permukaan ovarium 2. Kapsul ruptur 3. Ascites (+) |
Stadium III kanker meluas mengenai organ pelvis dan
intraperitoneal
|
|
III A
|
Makroskopis : terbatas 1 / 2 ovarium
Mikroskopis : mengenai intraperitoneal |
III B
|
Makroskopis : mengenai intraperitoneal diameter <
2 cm, KGB (-)
|
III C
|
|
H.
Penatalaksanaan Penatalaksanaan
Sebagian besar kanker ovarium memerlukan pengobatan
dengan kemoterapi. Hanya kanker ovarium stadium awal saja (stadium 1a dan 1b
dengan derajat diferensiasi sel yang baik/sedang) yang tidak memerlukan
kombinasi pengobatan.
Metode terapi adalah
sebagai berikut:
1)
Kemoterapi
Dengan pemanasan intraperitoneal: melalui insisi perkutan dimasukkan dua tabung silicon intraperitoneal, satu diletakkan di permukaan hati subdiafragma, satu lagi di resesus posterior kavum pelvis, ujungnya difiksasi di dinding abdomen. Obat yang diinfuskan biasanya FU, DDP, CTX dll. di dalam 3000-4000cc larutan garam faal. Sebelumnya larutan itu dipanaskan hingga 42oC, dan upayakan temperatur itu dipertahankan. Lalu melalui satu tabung silicon dialirkan ke rongga abdomen, setelah 8-12 jam larutan dikeluarkan lewat tabung yang lainnya. Kecepatan pemberian adalah 500cc per jam. Setiap minggu dilakukan 1 – 2 kali. Efek buruknya berupa sakit perut, untuk itu dapat serentak diberikan lidokain intraperitoneal.
Dengan pemanasan intraperitoneal: melalui insisi perkutan dimasukkan dua tabung silicon intraperitoneal, satu diletakkan di permukaan hati subdiafragma, satu lagi di resesus posterior kavum pelvis, ujungnya difiksasi di dinding abdomen. Obat yang diinfuskan biasanya FU, DDP, CTX dll. di dalam 3000-4000cc larutan garam faal. Sebelumnya larutan itu dipanaskan hingga 42oC, dan upayakan temperatur itu dipertahankan. Lalu melalui satu tabung silicon dialirkan ke rongga abdomen, setelah 8-12 jam larutan dikeluarkan lewat tabung yang lainnya. Kecepatan pemberian adalah 500cc per jam. Setiap minggu dilakukan 1 – 2 kali. Efek buruknya berupa sakit perut, untuk itu dapat serentak diberikan lidokain intraperitoneal.
2)
Imunoterapi
intraperitoneal
Masukkan tabung ke
rongga pelvis, abdomen, suntikkan obat kemoterapi, 1 – 2 kali per minggu,
serentak disuntikkan imunomodulator, umumnya digunakan vaksen kuman Serratia
marcescen (S311), 1cc per kali. Pasca injeksi dapat timbul demam yang mencapai
39oC, 2-3 jam kemudian reda spontan. Demam pertanda respons imun bekerja, tidak
akan berdampak buruk.
3)
Krioablasi argon –
helium
Terhadap massa
ovarium, tidak peduli itu lesi primer atau metastasis rongga pelvis dan dinding
abdomen, dapat memakai krioablasi argon-helium. Metode ini setara dengan
operasi debulking, rudapaksa bagi pasien jauh lebih kecil dibandingkan operasi.
4) Terapi intra-arteri
Melalui arteri
femoralis dimasukkan kateter hingga mencapai arteri ovarial, suntikkan emulsi
campuran kemoterapi (misal DDP) dan lipiodol. Jepang melaporkan terapi dengan
cara ini, setelah 1 bulan massa ovarium menyusut rata-rata 49%. Kami sering
mengombinasikan cara ini dengan krioablasi argon-helium. Seorang pasien dari
kota Shenyang di RRC, usia 56 tahun, kavum pelvis penuh dengan tumor disertai
asites, setelah terapi intra-arteri dan krioablasi argon-helium, lesi lenyap
total, hingga kini 18 bulan tidak tampak kekambuhan.
Terapi dari kanker ovarium tergantung dari stadium dari penyakit, tipe penyakit (primer atau rekuren ), terapi pilihan, dan kondisi tubuh.
Terapi dari kanker ovarium tergantung dari stadium dari penyakit, tipe penyakit (primer atau rekuren ), terapi pilihan, dan kondisi tubuh.
5) Kanker Ovarium atipikal
Kanker atipikal ini
memiliki sifat yang berbeda dari kanker ganas ovarium tipe lainnya. Biasa
terdapat pada wanita usia 40 tahun (keganasan pada usia 60 tahun). 20% stadium
dini dapat menyebar ke intraabdomen (perut) dan memerlukan terapi operasi.
Pasien kanker atipikal ovarium dengan stadium dini yang masih ingin
mempertahankan kesuburannya dapat melakukan unilateral salpingo-oophorectomi
(operasi pengangkatan indung telur yang mengandung kanker).
6)
stadium dini kanker
ovarium
Stadium dini kanker
ovarium adalah stadium I dan II. Terapi yang dapat dilakukan pada stadium ini
adalah operasi (total abdominal histerektomi, bilateral salpingo-oophorektomi),
kemoterapi (pada kasus dengan angka kesembuhan rendah, diberikan setelah
operasi), dan radiasi
7)
Stadium Lanjut kanker
ovarium
Stadium ini selalu
membutuhkan terapi operasi yang optimal diikuti kemoterapi setelah operasi
untuk meningkatkan kemampuan bertahan hidup. Radiasi seluruh bagian perut
(whole abdominal radiation) dapat menjadi alternatif dari kemoterap
8)
Kanker ovarium yang
kambuh
Pasien dengan kanker
ovarium yang kambuh adalah kandidat untuk dilakukan operasi yang kedua kalinya
dengan kemoterapi menggunakan agen yang berbeda. Terapi hormonal juga dapat digunakan.
Terapi yang masih dalam penelitian adalah terapi stem sel, imunoterapi
menggunakan interferon, dan terapi genetik.
Kanker ovarium epitelial :
Kanker ovarium epitelial :
Stadium I : Pilihan
terapi stadium I dengan derajat diferensiasi baik sampai sedang, operasi
salpingo-ooforektomi bilateral (operasi pengangkatan tuba fallopi dan ovarium)
atau disertai histerektomi abdominal total (pengangkatan uterus) dan sebagian
jaringan abdominal, harapan hidup selama 5 tahun mencapai 90%, pada stadium I
dengan diferensiasi buruk atau stadium IC pilihan terapi berupa:
a) Radioterapi
b) Kemoterapi sistemik
c) Histerektomi total abdominal dan radioterapi
Stadium II: Pilihan terapi utama operasi disertai
kemoterapi atau radioterapi, dengan terapi ajuvan memperpanjang waktu remisi
dengan harapan hidup selama 5 tahun mendekati 80 %.
Stadium III dan IV:
Sedapat mungkin massa tumor dan daerah metastasis
sekitarnya diangkat (sitoreduktif) berupa pengeluran asites, omentektomi,
reseksi daerah permukaan peritoneal, dan usus, jika masih memungkinkan
salpingo-ooforektomi bilateral dilanjutkan terapi ajuvan kemoterapi dan atau
radioterapi.
Kanker ovarium germinal :
Kanker ovarium germinal :
a) Disgerminoma: pengangkatan ovarium dan tuba fallopi
dimana kanker ditemukan dilanjutkan radioterapi atau kemoterapi.
b) Tumor sel germinal lainnya: pengangkatan ovarium dan
tuba fallopi dilanjutkan kemoterapi.
Kanker ovarium
stromal :
a) Operasi yang dilanjutkan dengan kemoterapi.
Kombinasi
standar sistemik kemoterapi berupa TP (paclitaxel + cisplatin atau
carboplatin), CP (cyclophosphamide + cisplatin), CC (cyclophosphamide +
carboplatin).
Sejak tahun 1993
perkumpulan ginekologi onkologi (GOG) melaporkan bahwa paclitaxel dengan
kombinasi cisplatin kini merupakan terapi lini pertama untuk kanker ovarium.
BAB III
LANDASAN TEORI
1
Pengkajian
Pengkajian adalah
langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh
(Boedihartono, 1994). Pengkajian pasien dengan Karsinoma Ovarium meliputi:
1)
Data Biografi dan
Demografi
Data biografi
meliputi identifikasi pasien yaitu nama, umur, jenis kelamin, agama,
pendidikan, pekerjaan, alamat dan identitas penanggung jawab.
Data demografi meliputi: usia, golongan darah, dan lingkungan.
Data demografi meliputi: usia, golongan darah, dan lingkungan.
2) Keluhan Utama (alasan utama datang ke rumah sakit)
3) Terkait keluhan pasien saat masuk RS seperti: Haid
tidak teratur, ketegangan menstrual yang terus meningkat, menoragia, nyeri
tekan pada payudara, menopause dini, rasa tidak nyaman pada abdomen, dyspepsia,
tekanan pada pelvis, sering berkemih, flatulenes, rasa begah setelah makan
makanan kecil, lingkar abdomen yang terus meningkat.
4) Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Riwayat kesehatan
sekarang pada pasien karsinoma Ovarium adalah Haid tidak teratur, ketegangan
menstrual yang terus meningkat, menoragia, nyeri tekan pada payudara, menopause
dini, rasa tidak nyaman pada abdomen, dyspepsia, tekanan pada pelvis, sering
berkemih, flatulenes, rasa begah setelah makan makanan kecil, lingkar abdomen
yang terus meningkat.
5) Riwayat Kesehatan Dahulu (RKD)
Riwayat kesehatan
dahulu yang berhubungan dengan penyakit klien sekarang misalnya: Ca mamae
diduga memeliki hubungan terhadap kejadian kanker ovarium pada wanita..
sebaliknya pada wanita pada yang mengidap Ca ovarium juga mempunyai faktor
resiko mengidap Ca mamae 3-4 kali lipat.
6) Riwayat Reproduksi
Riwayat reproduksi
meliputi beberapa hal yang berhubungan masalah reproduksi seperti; bagaimana
perjalanan klinis siklus haid teratur atau tidak serta bagaimana durasi haid
normal atau tidak.
7) Riwayat obstetric
Adapun riwayat
obstetric terdiri dari masalah; kehamilan, persalinan, dan nifas yang dialami
oleh klien yang bersangkutan.
8) Riwayat menstruasi
Adanya riwayat
menstruasi yang tidak teratur, lam dan siklus haid, menarche
9)
Riwayat Perkawinan
Adanya riwayat
menikah pada usia dini (kurang dari 16 tahun), mempunyai pasangan lebih dari
satu, sering melahirkan dari jarak, kehamilan terlalu dekat.
10) Riwayat keluarga berencana
Adanya riwayat penggunaan
alat kontrasepsi hormal.
11) Faktor Predisposisi.
Dalam mengkaji faktor
predisposisi akan ditemukan hal yang dapat menyebabkan terjadinya kecemasan,
antara lain: peristiwa traumatik, konflik yang dialami, frustasi, gangguan
fisik, pola keluarga menghadapi stress, riwayat gangguan kecemasan dalam
kelaurga, dan pengobatan yang pernah didapat.
Pemeriksaan Fisik
Data dasar pengajian
pasien:
1
Aktivitas / istirahat
Gejala : Kelemahan
dan / keletihan
Perubahan pada pola
istirahat dan jam kebiasaan tidur, misalnya : nyeri, ansietas.
Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsiogen lingkungan.
Pekerjaan atau profesi dengan pemajanan karsiogen lingkungan.
2
Sirkulasi
Gejala : Palpitasi, nyeri
dada pada pengerahan kerja
Kebiasaan : Perubahan
pada TD
3
Integritas ego
Gejala : Factor
stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) dan cara mengatasi stress
(misalnya merokok,minum alcohol, mununda mencari pengobatan, keyakinan religius
/ spiritual)
Masalah tentang
perubahan dalam penampilan, misalnya
pembedahan.
pembedahan.
Menyangkal diagnosis,
perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak bernakna, rasa bersalah,
kehilangan control, depresi.
Kebiasaan : Menyangkal,
menarik diri, marah
4
Eliminasi
Gejala : Perubahan pada pola defekasi, misalnya nyeri pada defekasi
Perubahan eliminasi urinarius, misalnya sering berkemih.
Gejala : Perubahan pada pola defekasi, misalnya nyeri pada defekasi
Perubahan eliminasi urinarius, misalnya sering berkemih.
Tanda : Perubahan
pada bising usus, distensi abdomen.
5
Makanan / cairan
Gejala : Kebiasaan
diet buruk, misalnya rendah serat tinggi lemak bahan pengawet.
Anoreksi, mual / muntah
Anoreksi, mual / muntah
Perubahan pada berat
badan ; penurun berat badan
Tanda : Perubahan
pada kelembaban / turgo kulit ; edema
6
Neurosensori
Gejala : Pusing ; sinkope
Gejala : Pusing ; sinkope
7
Nyeri / kenyamanan
Gejala : Derajat
nyeri bervariasi, misalnya ketidak nyamanan ringan
sampai nyeri berat.
sampai nyeri berat.
8
Pernapasan
Gejala : Merokok,
hidup dengan seseorang yang merokok.
Pemajanan asbes
Pemajanan asbes
9
Keamanan
Gejala : Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen
Pemanjana matahari lama / berlebihan.
Gejala : Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen
Pemanjana matahari lama / berlebihan.
Tanda : Demam, Ruam
kulit, ulserasi
10 Seksualitas
Gejala : Masalah seksual, misalnya dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.
Gejala : Masalah seksual, misalnya dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.
11 Interaksi sosial
Gejala :
Ketidakadekuatan / kelemahan system pendukung.
Masalah tentang fungsi / tanggung jawab peran
Masalah tentang fungsi / tanggung jawab peran
12 Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : Riwayat
kaker pada keluarga, misalnya ibu / Bibi dengan kanker payudara, kanker
ovarium, kanker kolon
Riwayat pengobatan :
Pengobatan sebelumnya untuk tempat kanker dan pengobatan yang diberikan.
2
Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan
penekanan perut bagian bawah akibat kanker metastasis.
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan gangguan pernafasan akibat penekanan asites pada diafragma.
3) Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, dan gangguan GI akibat adanya kanker metastasis.
4) Ansietas berhubungan dengan stres akibat kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
(Doenges, Marilyn, 1993; Reader, 1997)
3. Rencana Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan penekanan perut bagian bawah akibat kanker metastasis.
Tujuan : Dalam 2x 24 jam rasa nyeri berkurang
Kriteria Hasil : Setelah diberi tindakan keperawatan skala nyeri berkurang
Intervensi :
a) Kolaborasi tindakan pembedahan untuk pengangkatan kanker.
Rasional :Pembedahan bertujuan untuk menghilangkan faktor utama penyebab nyeri.
b) Kolabarasi untuk pemberian terapi analgesik.
Rasional :Menghilangkan rasa nyeri
c) Atur posisi senyaman mungkin.
Rasional :Menurunkan tingkat ketegangan pada daerah nyeri
d) Ajarkan dan lakukan tehnik relaksasi.
Rasional : Merelaksasi otot – otot tubuh
e) Kaji tingkat dan intensitas nyeri.
Rasional :Mengidentifikasi skala dan perkembangan nyeri
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan gangguan pernafasan akibat penekanan asites pada diafragma.
Tujuan : Mengembalikan pola nafas klien menjadi normal kembali
Kriteria Hasil :
a. Klien tidak mengeluh sesak
b. RR normal kembali antara 20 x/mnt
c. Klien tidak terlihat cemas dan gelisah
Intervensi :
a. Batasi aktivitas dan mobilisasi klien
Rasional :Istirahat dapat mengurangi konsumsi O2 klien
b. Mengistirahatkan klien dengan posisi semifowler
Rasional :Posisi semi fowler menambah ruang ekspansi dada
c. Longgarkan baju klien
Rasional :Baju klien yang longgar mempermudah klien dalam bernafas
d. Kolaborasi pemberian terapi oksigen
Rasional :Terapi oksigen dibutuhkan jika klien membutuhkan O2 lebih
e. Tenangkan klien
Rasional :Jika klien tenang maka konsumsi O2 semakin efisien
3) Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, dan gangguan GI akibat adanya kanker metastasis.
Tujuan : Dalam 2x 24 jam nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil : mual (-), nafsu makan pasien meningkat, berat badan stabil, penambahan berat badan progresif
Intervensi :
a. Pantau masukan makanan setiap hari.
Rasional :Mengidentisifikasi kekuatan atau defisiensi nutrisi.
b. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya protein kaya nutrient, dengan masukan cairan adekuat.
Rasional : Kebutuhan jaringan metabolic ditingkatkan begitu juga cairan (untuk menghilangkan produk sisa).
c. Dorong penggunaan suplement dan makan sering atau lebih sedikit yang dibagi-bagi selama sehari
Rasional : Suplemen dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan kalori dan protein adekuat.
d. Kontrol factor lingkungan. Hindari terlalu terlalu manis, berlemak, atau makanan pedas.
Rasional :Dapat mentriger respons mual muntah.
e. Dorong penggunaan teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajenasi, latihan sedang sebelum makan.
Rasional : Dapat mencegah awitan atau menurunkan beratnya mual, penurunan anoreksia, dan memungkinkan pasien meningkatkan masukan oral.
f. Identifikasi pasien yang mengalami mual atau muntah yang diantisipasi.
Rasional :Mual atau muntah psikogenik terjadi karena perubahan lingkungan pengobatan atau rutinitas pasien pada hari pengobatan mungkin efektif.
4) Ansietas berhubungan dengan stres akibat kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
Tujuan : Dalam 2x 24 jam klien tidak terlihat cemas dan gelisah
Kriteria hasil : Berkurangnya rasa takut, klien tahu dan mengerti tentang keadaan dirinya, klien dapat melakukan manajemen stress terhadap kondisinya
Intervensi :
a. Dengarkan dengan seksama apa keluh kesah klien
Rasional : Dengan mendengarkan keluh kesah klien maka akan mengurangi stress klien
b. Berikan solusi yang relevan
Rasional :Solusi relevan sangat dibutuhkan klien
c. Berikan informasi tentang kesehatan klien
Rasional :Informasi tentang keadaan klien sangat dibutuhkan
d. Temani klien dalam memutuskan sesuatu
Rasional :klien membutuhkan teman untuk berbagi
e. Berikan humor ringan kepada klien
Rasional :Humor sangat diperlukan klien untk mengurangi stress yang dirasakanya
4. Evaluasi
1) Klien merasa reda dari nyeri dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan
2) Klien dapat memperbaiki persepsi citra tubuh dan harga dirinya.
3) Tidak adanya tanda-tanda disfungsi seksual
4) Klien menyatakan paham tentang perubahan struktur dan fungsi seksual.
5) Mengidentifikasi kepuasan / praktik seksual yang diterima dan beberapaalternatif cara mengekspresikan keinginan seksual
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan gangguan pernafasan akibat penekanan asites pada diafragma.
3) Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, dan gangguan GI akibat adanya kanker metastasis.
4) Ansietas berhubungan dengan stres akibat kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
(Doenges, Marilyn, 1993; Reader, 1997)
3. Rencana Keperawatan
1) Nyeri berhubungan dengan penekanan perut bagian bawah akibat kanker metastasis.
Tujuan : Dalam 2x 24 jam rasa nyeri berkurang
Kriteria Hasil : Setelah diberi tindakan keperawatan skala nyeri berkurang
Intervensi :
a) Kolaborasi tindakan pembedahan untuk pengangkatan kanker.
Rasional :Pembedahan bertujuan untuk menghilangkan faktor utama penyebab nyeri.
b) Kolabarasi untuk pemberian terapi analgesik.
Rasional :Menghilangkan rasa nyeri
c) Atur posisi senyaman mungkin.
Rasional :Menurunkan tingkat ketegangan pada daerah nyeri
d) Ajarkan dan lakukan tehnik relaksasi.
Rasional : Merelaksasi otot – otot tubuh
e) Kaji tingkat dan intensitas nyeri.
Rasional :Mengidentifikasi skala dan perkembangan nyeri
2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan gangguan pernafasan akibat penekanan asites pada diafragma.
Tujuan : Mengembalikan pola nafas klien menjadi normal kembali
Kriteria Hasil :
a. Klien tidak mengeluh sesak
b. RR normal kembali antara 20 x/mnt
c. Klien tidak terlihat cemas dan gelisah
Intervensi :
a. Batasi aktivitas dan mobilisasi klien
Rasional :Istirahat dapat mengurangi konsumsi O2 klien
b. Mengistirahatkan klien dengan posisi semifowler
Rasional :Posisi semi fowler menambah ruang ekspansi dada
c. Longgarkan baju klien
Rasional :Baju klien yang longgar mempermudah klien dalam bernafas
d. Kolaborasi pemberian terapi oksigen
Rasional :Terapi oksigen dibutuhkan jika klien membutuhkan O2 lebih
e. Tenangkan klien
Rasional :Jika klien tenang maka konsumsi O2 semakin efisien
3) Kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, dan gangguan GI akibat adanya kanker metastasis.
Tujuan : Dalam 2x 24 jam nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil : mual (-), nafsu makan pasien meningkat, berat badan stabil, penambahan berat badan progresif
Intervensi :
a. Pantau masukan makanan setiap hari.
Rasional :Mengidentisifikasi kekuatan atau defisiensi nutrisi.
b. Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya protein kaya nutrient, dengan masukan cairan adekuat.
Rasional : Kebutuhan jaringan metabolic ditingkatkan begitu juga cairan (untuk menghilangkan produk sisa).
c. Dorong penggunaan suplement dan makan sering atau lebih sedikit yang dibagi-bagi selama sehari
Rasional : Suplemen dapat memainkan peran penting dalam mempertahankan kalori dan protein adekuat.
d. Kontrol factor lingkungan. Hindari terlalu terlalu manis, berlemak, atau makanan pedas.
Rasional :Dapat mentriger respons mual muntah.
e. Dorong penggunaan teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajenasi, latihan sedang sebelum makan.
Rasional : Dapat mencegah awitan atau menurunkan beratnya mual, penurunan anoreksia, dan memungkinkan pasien meningkatkan masukan oral.
f. Identifikasi pasien yang mengalami mual atau muntah yang diantisipasi.
Rasional :Mual atau muntah psikogenik terjadi karena perubahan lingkungan pengobatan atau rutinitas pasien pada hari pengobatan mungkin efektif.
4) Ansietas berhubungan dengan stres akibat kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
Tujuan : Dalam 2x 24 jam klien tidak terlihat cemas dan gelisah
Kriteria hasil : Berkurangnya rasa takut, klien tahu dan mengerti tentang keadaan dirinya, klien dapat melakukan manajemen stress terhadap kondisinya
Intervensi :
a. Dengarkan dengan seksama apa keluh kesah klien
Rasional : Dengan mendengarkan keluh kesah klien maka akan mengurangi stress klien
b. Berikan solusi yang relevan
Rasional :Solusi relevan sangat dibutuhkan klien
c. Berikan informasi tentang kesehatan klien
Rasional :Informasi tentang keadaan klien sangat dibutuhkan
d. Temani klien dalam memutuskan sesuatu
Rasional :klien membutuhkan teman untuk berbagi
e. Berikan humor ringan kepada klien
Rasional :Humor sangat diperlukan klien untk mengurangi stress yang dirasakanya
4. Evaluasi
1) Klien merasa reda dari nyeri dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan
2) Klien dapat memperbaiki persepsi citra tubuh dan harga dirinya.
3) Tidak adanya tanda-tanda disfungsi seksual
4) Klien menyatakan paham tentang perubahan struktur dan fungsi seksual.
5) Mengidentifikasi kepuasan / praktik seksual yang diterima dan beberapaalternatif cara mengekspresikan keinginan seksual
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
1
Kesimpulan
Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain, panggul, dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru.
Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. (Wingo, 1995). Penyebab pasti kanker ovarium masih dipertanyakan, beberapa hal yang diperkirakan sebagai faktor resiko kanker ovarium adalah sebagai berikut: riwayat keluarga kanker ovarium dan kanker payudara, riwayat keluarga kanker kolon dan kanker endometrial,wanita diatas usia 50 – 75 tahun, wanita yang tidak memiliki anak(nullipara), wanita yang memiliki anak > 35 tahun, membawa mutasi gen BRCA1 atau BRCA2, sindroma herediter kanker kolorektal nonpolipoid.
Kanker Indung telur atau Kanker ovarium adalah tumor ganas pada ovarium (indung telur) yang paling sering ditemukan pada wanita berusia 50 – 70 tahun. Kanker ovarium bisa menyebar ke bagian lain, panggul, dan perut melalui sistem getah bening dan melalui sistem pembuluh darah menyebar ke hati dan paru-paru.
Kanker ovarium sangat sulit didiagnosa dan kemungkinan kanker ovarium ini merupakan awal dari banyak kanker primer. (Wingo, 1995). Penyebab pasti kanker ovarium masih dipertanyakan, beberapa hal yang diperkirakan sebagai faktor resiko kanker ovarium adalah sebagai berikut: riwayat keluarga kanker ovarium dan kanker payudara, riwayat keluarga kanker kolon dan kanker endometrial,wanita diatas usia 50 – 75 tahun, wanita yang tidak memiliki anak(nullipara), wanita yang memiliki anak > 35 tahun, membawa mutasi gen BRCA1 atau BRCA2, sindroma herediter kanker kolorektal nonpolipoid.
2
Saran
Untuk wanita (terutama wanita yang berisiko) diperlukan kesadaran untuk melakukan deteksi dini Ca Ovarium.
Untuk wanita (terutama wanita yang berisiko) diperlukan kesadaran untuk melakukan deteksi dini Ca Ovarium.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC: Jakarta
Donges, Marilynn E. 1999.Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta
file:///D:/KARSINOMA OVARIUM « Jadilah Yang Terbaik.htm
Gale, Danielle. 1999. Rencana asuhan keperawatan onkologi. Jakarta ;EGC
Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan. Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Price, Sylvia Anderson. 1995. patofisiologi. Konsep kliniks proses penyakit . jakarta : EGC.
Sastrawinata, sulaiman. 1981. Ginekologi. Bandung : Elstar offset
Tambunan, Gani 1995. diagonosis dan tatalaksanaan sepuluh jenis kanker terbanyak di Indonesia. Jakarata: EGC
www. Carcinoma ovarium.com
www. Kanker ovarium.co.id
Yatim, Faisal 2005. penyakit kandung . jakarta : pustaka popular obor.